Digital Translate in Elementary Learning: Akses Global atau Ancaman Lokal terhadap Pencapaian SDGs?
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Teknologi translate semakin sering digunakan dalam pendidikan dasar sebagai alat bantu memahami informasi lintas bahasa, terutama saat membahas isu-isu global seperti perubahan iklim dan keberlanjutan. Banyak sekolah dasar mulai mengadaptasi materi internasional yang diterjemahkan untuk mendukung pencapaian SDGs, khususnya SDGs poin 4 tentang pendidikan berkualitas. Namun, pemanfaatan translate yang bersifat instan sering mengabaikan proses berpikir reflektif yang dibutuhkan oleh anak usia sekolah dasar. Hasil terjemahan yang tidak disertai analisis bisa memicu ketergantungan teknologi dan menghambat pembentukan kemampuan membaca pemahaman. Jika teknologi menjadi pusat belajar, bukan media pendukung, maka pendidikan berpotensi kehilangan arah esensialnya. Inilah dilema utama yang perlu dicermati sebelum translate dijadikan alat pembelajaran utama.
Dari sisi progresif, hadirnya teknologi translate membuka akses informasi global yang sebelumnya sulit dijangkau oleh siswa sekolah dasar, terutama dari daerah dengan sumber belajar terbatas. Dengan dukungan guru, siswa dapat mengenal narasi internasional terkait SDGs—seperti pengelolaan sampah di Jepang atau konservasi laut di Norwegia—tanpa terhalang bahasa. Hal ini dapat menumbuhkan perspektif global dan memperluas wawasan keberlanjutan sejak dini. Bahkan, beberapa sekolah memanfaatkan hasil terjemahan untuk proyek kolaboratif internasional, seperti kampanye hemat air berbasis bilingual. Teknologi ini juga mendukung kurikulum berbasis proyek (PBL) dimana siswa diminta menerjemahkan informasi lalu mengaitkannya dengan tindakan lokal. Secara teori, pendekatan ini mempercepat penguatan literasi digital dan kesadaran global anak.
Namun, secara kritis perlu diakui bahwa penggunaan translate tanpa intervensi pedagogis kuat dapat memunculkan risiko serius dalam proses belajar. Anak usia SD dinilai belum memiliki kemampuan kognitif matang untuk menilai akurasi terjemahan, sehingga mudah menerima informasi secara mentah. Hasil terjemahan juga sering bias budaya, dan bisa mendistorsi nilai lokal jika tidak diolah secara edukatif. Ketergantungan berlebihan pada teknologi dapat menurunkan kemampuan bahasa asli dan memicu gaya belajar pasif. Bahkan, pengamat pendidikan menyatakan bahwa penggunaan translate yang salah dapat mempercepat “globalisasi tanpa identitas” dalam pendidikan dasar. Jika fenomena ini terus dibiarkan, maka implementasi translate justru bertentangan dengan SDGs 4.7 yang menekankan pendidikan berbasis budaya lokal.
Untuk mengatasi hal tersebut, teknologi translate perlu digunakan sebagai media pembanding, bukan sumber utama. Guru dapat mengajak siswa membahas perbedaan antara hasil terjemahan dengan makna asli dalam konteks budaya, sehingga kemampuan berpikir kritis terangsang. Pembelajaran dapat dikembangkan dalam bentuk diskusi analitis atau eksplorasi teks bilingual, agar siswa tidak hanya menerima terjemahan tetapi memahami isinya. Strategi ini dapat diperkuat melalui proyek kelas yang menggabungkan informasi hasil translate dengan observasi lingkungan sekitar sekolah. Dengan begitu, siswa belajar “dari global untuk lokal” dengan tetap mempertahankan jati diri. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya linguistik, tetapi juga spiritualitas dan kepekaan sosial anak terhadap isu keberlanjutan.
Pada akhirnya, translate harus diposisikan sebagai alat literasi digital strategis yang digunakan secara terbatas dan reflektif dalam pendidikan dasar. Guru memiliki peran sentral untuk memastikan bahwa teknologi diterapkan melalui pendekatan analitis, berbasis konteks, dan sejalan dengan pedagogi modern. Jika dijalankan dengan kontrol edukatif ketat, translate dapat menjadi jembatan menuju pemahaman keberlanjutan global bagi generasi muda. Namun jika digunakan secara instan dan tanpa kajian mendalam, teknologi ini justru menjadi ancaman terhadap kualitas pendidikan dan pencapaian SDGs jangka panjang. Pendidikan dasar harus memastikan bahwa siswa bukan hanya mampu “menerjemahkan informasi”, tetapi juga “menerjemahkan tindakan” dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, translate tidak hanya mengubah kata, tetapi juga mengubah kesadaran menuju masa depan yang berkelanjutan.
###
Penulis: Putri Arina Hidayati
Dokumentasi: Google_Edutopia