Dilema Dosen: Antara Integritas Akademik dan Tekanan Administrasi Kampus
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di balik fenomena inflasi nilai, terdapat sosok dosen yang seringkali berada dalam posisi dilematis antara menjaga integritas penilaian atau tunduk pada tekanan administratif kampus yang kian dominan. Survei internal di beberapa perguruan tinggi menunjukkan bahwa pemberian nilai rendah kini seringkali berujung pada tuntutan klarifikasi yang melelahkan bagi dosen, bahkan berpengaruh pada nilai evaluasi kinerja tahunan mereka. Selain itu, sistem Evaluasi Dosen oleh Mahasiswa (EDOM) yang digunakan secara mentah sebagai parameter kualitas pengajar membuat dosen cenderung bersikap permisif agar disukai oleh mahasiswa dan mendapatkan poin tinggi.
Situasi ini secara perlahan namun pasti mematikan iklim kompetisi intelektual yang sehat di ruang-ruang kelas universitas kita. Tanpa adanya pemisahan nilai yang jelas antara mahasiswa yang benar-benar berdedikasi dengan mereka yang hanya sekadar hadir, motivasi untuk menjadi yang terbaik akan hilang. Mahasiswa yang berprestasi merasa tidak dihargai karena nilai mereka sama dengan teman-temannya yang kurang aktif, sementara mahasiswa pasif merasa tidak perlu berusaha keras karena nilai "A" sudah hampir pasti didapatkan. Penurunan standar intelektual secara kolektif ini adalah ancaman nyata bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Tekanan administratif ini juga mencakup kewajiban dosen untuk memastikan mahasiswa lulus tepat waktu agar profil program studi tetap baik. Dosen seringkali "diminta" untuk memberikan tugas tambahan yang sangat mudah sebagai pengganti nilai ujian yang gagal, sehingga pada akhirnya semua mahasiswa lulus dengan nilai yang memuaskan secara administratif. Praktik semacam ini memang menyelamatkan statistik universitas, namun mengkhianati amanah pendidikan untuk memastikan setiap lulusan benar-benar kompeten. Dosen berubah dari seorang pendidik menjadi sekadar fasilitator kelulusan yang bekerja di bawah bayang-bayang birokrasi.
Selain itu, beban kerja administrasi yang luar biasa membuat dosen kehilangan waktu untuk melakukan penilaian yang mendalam terhadap karya mahasiswa. Memeriksa esai kritis dari ratusan mahasiswa membutuhkan energi dan waktu yang besar, sehingga banyak dosen beralih ke ujian pilihan ganda yang otomatis atau sekadar menilai permukaan saja. Hal ini menyebabkan kualitas feedback yang diberikan kepada mahasiswa menjadi dangkal dan tidak konstruktif. Mahasiswa tidak belajar dari kesalahan mereka, dan dosen tidak mampu mengidentifikasi celah pemahaman mahasiswa karena proses penilaian yang terburu-buru dan mekanis.
Kehilangan otonomi dalam memberikan penilaian objektif juga berdampak pada moral para pendidik itu sendiri. Banyak dosen muda yang memiliki idealisme tinggi merasa frustrasi dan akhirnya "menyerah" pada sistem karena merasa tidak mendapatkan dukungan dari pimpinan universitas saat mencoba menegakkan aturan yang ketat. Integritas akademik yang seharusnya menjadi nilai utama di perguruan tinggi justru dianggap sebagai penghambat kemajuan administratif. Jika kondisi ini terus berlanjut, profesi dosen akan kehilangan daya tariknya bagi individu-individu yang benar-benar peduli pada kualitas pendidikan tinggi.
Universitas perlu menciptakan sistem perlindungan bagi dosen agar mereka bisa menjalankan fungsi evaluasi dengan tenang tanpa takut akan konsekuensi karier. Kualitas pengajaran tidak boleh hanya diukur dari popularitas dosen di mata mahasiswa (EDOM), melainkan dari seberapa besar peningkatan kompetensi yang dialami mahasiswa. Diperlukan audit akademik yang independen untuk memantau apakah proses penilaian di kelas sudah sesuai dengan standar mutu atau hanya sekadar upaya mengejar target kelulusan. Transparansi dan dukungan manajemen adalah kunci untuk mengembalikan integritas dosen sebagai penjaga standar kualitas.
Sebagai penutup, perlindungan terhadap otonomi dosen dalam memberikan penilaian objektif tanpa intimidasi administratif harus segera dikembalikan demi menjaga marwah pendidikan tinggi Indonesia. Dosen adalah benteng terakhir pertahanan kualitas akademik; jika mereka dipaksa untuk berkompromi, maka runtuhlah seluruh standar kualitas yang kita bangun. Mari kita dukung para pendidik untuk tetap jujur dalam menilai, karena dari kejujuran itulah akan lahir generasi yang kompeten dan berintegritas. Sudah saatnya kita berhenti mengejar statistik manis yang kosong dan mulai fokus pada kualitas nyata yang berdampak bagi bangsa.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah