Dilema Guru SD: Antara Target Kurikulum dan Tuntutan Soal Kontekstual PISA
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di garis depan pendidikan dasar, para guru SD di Indonesia saat ini tengah menghadapi dilema profesional yang pelik: terjepit di antara target ketuntasan kurikulum yang padat dan tuntutan untuk mengajarkan matematika berbasis penalaran kontekstual. Meskipun visi besar PISA mendorong siswa untuk berpikir kritis, tekanan administratif dan budaya ujian sering kali memaksa guru kembali ke metode pembelajaran rutin yang dianggap lebih efisien waktu. Hal ini menciptakan situasi di mana inovasi pedagogi sering kali terhenti di level wacana, sementara di dalam kelas, rutinitas hafalan rumus tetap menjadi "raja".
Pembelajaran rutin sering dipilih karena memberikan hasil instan yang mudah diukur, namun ia memiliki kelemahan fatal yakni rendahnya daya tahan pengetahuan. Siswa mungkin bisa mendapatkan nilai sempurna dalam ujian harian, namun mereka kehilangan kemampuan tersebut dalam hitungan minggu karena tidak adanya kaitan emosional dan logika dengan kehidupan nyata. Di sisi lain, pembelajaran kontekstual membutuhkan waktu lebih lama untuk eksplorasi dan diskusi, sebuah "kemewahan" yang jarang dimiliki oleh guru yang harus menyelesaikan puluhan kompetensi dasar dalam satu semester.
Selain faktor waktu, banyak guru SD merasa kurang percaya diri dalam merancang masalah kontekstual yang berkualitas. Membuat soal yang benar-benar "nyata" membutuhkan kreativitas tinggi dan pemahaman mendalam tentang aplikasi matematika di berbagai bidang. Sering kali, soal yang diklaim kontekstual di buku teks hanyalah soal rutin yang diberi "baju" cerita, tanpa benar-benar menantang nalar siswa untuk melakukan pemodelan matematika. Inilah yang menyebabkan siswa tetap gagal saat menghadapi asesmen PISA yang standarnya jauh lebih otentik.
Data dari berbagai studi pengembangan profesi menunjukkan bahwa guru membutuhkan komunitas praktisi untuk berbagi beban ini. Di sinilah peran KKG (Kelompok Kerja Guru) menjadi krusial untuk melakukan desain bersama soal-soal berbasis literasi numerasi. Jika beban merancang konten kontekstual ditanggung secara kolektif, maka hambatan teknis dapat dikurangi. Pendidik di level S2 harus berperan sebagai jembatan yang membawa teori-teori terbaru ke dalam praktik nyata di KKG tersebut agar transformasi berjalan berbasis data.
Secara sistemik, dilema ini hanya bisa diselesaikan jika sistem penilaian makro juga berubah. Selama ujian kelulusan atau asesmen daerah masih berfokus pada soal-soal prosedural, guru akan tetap ragu untuk berinovasi. Harus ada sinergi antara standar PISA, kurikulum nasional, dan ujian tingkat sekolah. Ketika target yang dikejar konsisten, guru tidak lagi merasa harus memilih antara dua kutub yang berbeda, melainkan melihat kontekstualisasi sebagai jalan utama untuk mencapai tujuan kurikulum.
Penting juga untuk memberikan otonomi yang lebih luas kepada guru dalam mengelola kelas. Guru yang mengenal karakteristik siswanya lebih tahu konteks apa yang paling relevan bagi mereka, apakah itu pertanian, perdagangan, atau teknologi. Dengan memberikan fleksibilitas, matematika tidak lagi menjadi subjek yang kaku dan asing, melainkan menjadi hidup di tangan pendidik yang inspiratif. Kontekstualisasi adalah tentang membuat matematika menjadi bermakna bagi setiap anak, terlepas dari latar belakang sosial mereka.
Sebagai penutup, mendukung guru dalam menyeimbangkan target kurikulum dan tuntutan PISA adalah investasi terbaik bagi pendidikan kita. Guru bukan sekadar kurir informasi, melainkan arsitek kognitif bagi siswa SD. Jika beban administratif dikurangi dan kapasitas pedagogi ditingkatkan, maka realitas kelas matematika kita akan berubah dari sekadar tempat menghitung angka menjadi tempat melatih calon-calon pemikir besar. Keberhasilan siswa kita di kancah internasional adalah cermin dari seberapa besar kita menghargai dan mendukung kerja keras guru di ruang kelas.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah