Dilema Libur Panjang dalam Membentuk Karakter Tangguh dan Kedisiplinan Belajar Anak
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Pembentukan karakter tangguh pada siswa sekolah dasar merupakan proses panjang yang memerlukan lingkungan yang kondusif dan penuh tantangan. Namun, masa libur panjang sering kali menghadirkan dilema karena menciptakan lingkungan yang terlalu nyaman bagi perkembangan mental anak. Kemanjaan yang muncul akibat kurangnya tugas dan tanggung jawab dapat melemahkan daya tahan mental siswa dalam menghadapi kesulitan. Karakter tangguh hanya bisa terbentuk jika anak terbiasa menghadapi hambatan dan menyelesaikannya dengan disiplin yang tinggi secara mandiri. Ketika hambatan tersebut ditiadakan selama berminggu-minggu, kemampuan adaptasi dan kegigihan siswa cenderung mengalami penurunan yang cukup signifikan. Oleh sebab itu, perlu ada peninjauan kembali mengenai bagaimana masa libur dapat dimanfaatkan untuk tetap membangun karakter.
Kedisiplinan belajar yang telah dipupuk melalui budaya sekolah sering kali runtuh ketika berhadapan dengan kebebasan yang tanpa batas di rumah. Dilema ini muncul karena di satu sisi liburan adalah hak anak, namun di sisi lain disiplin adalah kebutuhan masa depan. Banyak siswa yang kehilangan kemampuan untuk mengatur prioritas antara bermain dan melakukan aktivitas yang bermanfaat bagi perkembangan dirinya. Keengganan untuk belajar mandiri selama liburan menunjukkan bahwa nilai disiplin belum terinternalisasi sepenuhnya dalam jiwa sang anak. Mereka masih memandang disiplin sebagai sesuatu yang dipaksakan dari luar, bukan sebagai kebutuhan internal yang bersifat pribadi. Kondisi ini menuntut peran orang tua untuk menjadi role model kedisiplinan yang nyata di lingkungan keluarga.
Dilema ini makin rumit ketika masyarakat menganggap bahwa liburan berarti berhenti total dari segala bentuk kegiatan yang bersifat akademik. Padahal, karakter tangguh justru diuji saat seseorang tetap mampu menjaga integritas diri meskipun tidak ada pengawasan langsung. Libur panjang seharusnya menjadi laboratorium kehidupan bagi siswa untuk mempraktikkan nilai-nilai karakter yang telah dipelajari di sekolah. Misalnya, kejujuran dalam mengatur waktu bermain dan kesadaran untuk tetap membantu orang tua tanpa harus diperintah secara berulang. Namun, kenyataannya banyak siswa yang justru menjadi tidak teratur dan cenderung mengabaikan tanggung jawab dasarnya sebagai seorang pembelajar. Hal ini mengindikasikan adanya celah besar dalam sistem pendidikan karakter yang perlu segera dievaluasi dan diperbaiki secara menyeluruh.
Dalam jangka panjang, kegagalan mengelola masa libur akan menghasilkan generasi yang mudah menyerah dan memiliki etos kerja yang rendah. Karakter yang lembek akan menyulitkan siswa dalam menghadapi persaingan global yang makin kompetitif dan penuh dengan ketidakpastian. Kedisiplinan belajar bukan hanya tentang nilai rapor, melainkan tentang bagaimana seseorang memimpin dirinya sendiri menuju tujuan yang lebih besar. Jika sejak dini anak tidak dibiasakan untuk tetap disiplin di waktu luang, mereka akan kesulitan mengelola kebebasan saat dewasa nanti. Pendidikan dasar memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa fondasi karakter ini tetap kokoh di tengah terpaan gaya hidup yang serba instan. Masa libur harus dikelola dengan bijak agar tetap memberikan ruang bagi pertumbuhan mental yang sehat dan kuat.
Integrasi pendidikan karakter ke dalam aktivitas liburan dapat dilakukan melalui penugasan berbasis proyek sosial atau hobi yang produktif. Siswa didorong untuk menetapkan target pribadi yang ingin dicapai selama masa libur, seperti membaca jumlah buku tertentu atau menguasai keterampilan baru. Dengan cara ini, siswa belajar untuk tetap memiliki tujuan hidup meskipun mereka sedang berada di luar lingkungan sekolah formal. Dukungan penuh dari sekolah dalam bentuk apresiasi terhadap kegiatan mandiri siswa akan sangat memotivasi mereka untuk tetap disiplin. Pada akhirnya, liburan tidak akan lagi menjadi ancaman bagi karakter anak, melainkan menjadi sarana penguatan jati diri pembelajar sejati. Sinergi antara kebebasan dan tanggung jawab adalah kunci utama dalam menjawab dilema libur panjang ini.
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.