Dilema Standardisasi Akademik dan Potret Buram Pendidikan SD di Balik Rendahnya TKA
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Fenomena rendahnya capaian Tes Kompetensi Akademik (TKA) saat ini mencerminkan adanya dilema besar dalam kebijakan standardisasi pendidikan nasional Indonesia. Di satu sisi, pemerintah berupaya menetapkan standar kelulusan yang tinggi melalui instrumen evaluasi yang rigid, namun di sisi lain, potret pendidikan sekolah dasar masih tampak buram. Ketimpangan antara ekspektasi standar global dengan realitas infrastruktur serta kualitas pedagogi di level dasar menciptakan jurang kompetensi yang sulit dijembatani. Akibatnya, siswa sekolah dasar sering kali dipaksa untuk mencapai target kognitif tertentu tanpa didukung oleh ekosistem pembelajaran yang memadai dan komprehensif. Kondisi ini menuntut adanya sinkronisasi ulang antara standar yang ditetapkan dengan kapasitas riil di tingkat akar rumput.
Potret buram pendidikan dasar tecermin dari masih rendahnya kualifikasi pengajaran yang mampu merangsang daya nalar abstrak pada anak didik. Standardisasi yang bersifat "satu ukuran untuk semua" sering kali mengabaikan disparitas kualitas antarwilayah yang sangat mencolok di Indonesia. Siswa di daerah tertinggal harus menghadapi ujian yang sama dengan mereka yang berada di kota besar, padahal akses literasinya sangat jaug berbeda. Hal ini memicu kegagalan sistemik yang puncaknya terlihat pada akumulasi ketidakmampuan menjawab soal-soal TKA di jenjang menengah. Tanpa adanya pembenahan pada aspek pemerataan kualitas, standardisasi akademik hanya akan menjadi instrumen yang meminggirkan potensi siswa dari kelas sosial ekonomi rendah.
Erosi kualitas di tingkat sekolah dasar juga dipicu oleh beban administratif guru yang mengalihkan fokus dari esensi pengajaran di dalam kelas. Guru lebih banyak menghabiskan waktu untuk menyusun laporan formalitas daripada merancang strategi pembelajaran yang inovatif dan relevan bagi siswa. Kurikulum yang sarat beban materi namun minim kedalaman konsep membuat proses transfer pengetahuan menjadi sangat mekanistik dan tidak bermakna secara intelektual. Padahal, sekolah dasar seharusnya menjadi arena bagi eksplorasi kognitif yang memicu rasa ingin tahu siswa secara berkelanjutan. Jika pola ini terus berlanjut, maka nilai TKA akan tetap menjadi angka yang memilukan tanpa adanya progresivitas yang nyata.
Dalam perspektif kebijakan, dekonstruksi terhadap sistem evaluasi harus dilakukan agar tidak hanya berorientasi pada hasil akhir yang bersifat kuantitatif semata. Penilaian terhadap keberhasilan pendidikan dasar harus mencakup proses tumbuh kembang logika dan karakter yang menjadi prasyarat kesuksesan di jenjang yang lebih tinggi. Diperlukan integrasi yang lebih kuat antara jenjang sekolah dasar dan menengah untuk memastikan kesinambungan materi dan metode pembelajaran secara linier. Kebijakan yang bersifat sporadis dan tidak terintegrasi hanya akan memperparah dilema standardisasi yang saat ini tengah dihadapi oleh dunia pendidikan kita. Oleh karena itu, komitmen politik untuk memprioritaskan kualitas sekolah dasar adalah harga mati bagi kemajuan bangsa.
Sebagai penutup, perbaikan skor TKA memerlukan transformasi radikal yang dimulai dengan menerangi sudut-sudut buram di sekolah dasar seluruh pelosok negeri. Investasi pada penguatan literasi dan numerasi dasar harus menjadi prioritas utama di atas segala proyek mercusuar pendidikan lainnya. Perlu disadari bahwa kualitas pendidikan menengah yang hebat tidak mungkin lahir dari sistem pendidikan dasar yang sedang mengalami krisis integritas dan kualitas. Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan lembaga pendidikan tinggi kependidikan sangat diperlukan untuk mewujudkan standar akademik yang berkeadilan. Dengan demikian, nilai TKA tidak lagi dipandang sebagai momok, melainkan sebagai cerminan dari keberhasilan sistem pendidikan dasar yang tangguh.
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.