Dinding Virtual Ekspresi: WhatsApp Web sebagai Media Apresiasi Seni dan Estetika Siswa
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pengembangan kreativitas dan apresiasi seni merupakan bagian penting dari pendidikan holistik yang menempatkan siswa sebagai individu utuh, tidak hanya dinilai dari capaian akademik semata, sejalan dengan tujuan SDG 4 tentang pendidikan berkualitas. Dalam konteks pembelajaran abad ke-21, WhatsApp Web dapat difungsikan sebagai “Dinding Virtual Ekspresi”, yakni galeri seni digital tempat siswa sekolah dasar menampilkan karya mereka. Setelah menyelesaikan karya seni rupa, kerajinan tangan, ilustrasi digital, atau puisi sederhana, siswa dapat mendokumentasikan hasil karyanya melalui foto atau video, lalu mengunggahnya ke grup kelas khusus apresiasi seni yang diakses melalui WA Web. Tampilan layar desktop yang lebih luas memungkinkan guru dan siswa lain menikmati detail karya dengan lebih nyaman dan fokus.
Pemanfaatan WA Web sebagai galeri virtual ini menjadi solusi atas keterbatasan ruang pajang fisik di sekolah, terutama bagi sekolah dengan sarana terbatas. Setiap siswa memperoleh kesempatan yang sama untuk menampilkan karyanya tanpa harus berebut ruang atau waktu. Selain itu, siswa yang cenderung pemalu atau kurang percaya diri saat harus mempresentasikan karya secara langsung di depan kelas merasa lebih aman dan nyaman mengekspresikan diri melalui media digital. Respons berupa komentar positif, pujian, atau simbol apresiasi yang muncul secara cepat di WA Web terbukti mampu meningkatkan rasa percaya diri siswa serta mendorong mereka untuk terus bereksplorasi dalam berkarya.
Dari sisi pendidik, WhatsApp Web memberikan kemudahan dalam mendokumentasikan seluruh proses dan hasil karya siswa. Guru dapat menyimpan unggahan karya sebagai portofolio digital yang tersusun rapi berdasarkan tema, waktu, atau jenis karya. Arsip ini tidak hanya berguna untuk menilai perkembangan kreativitas dan keterampilan estetika siswa dari waktu ke waktu, tetapi juga menjadi bukti autentik pembelajaran berbasis proses. Selain itu, portofolio digital tersebut dapat dibagikan kepada orang tua sebagai bentuk transparansi perkembangan non-akademik anak, memperkuat komunikasi antara sekolah dan keluarga.
Melalui aktivitas apresiasi seni di WA Web, siswa secara bertahap belajar tentang etika berkomunikasi di ruang digital. Mereka dilatih untuk memberikan komentar yang sopan, membangun, dan menghargai usaha teman sekelasnya. Guru berperan penting dalam membimbing siswa agar mampu menyampaikan kritik secara santun dan empatik, misalnya dengan menggunakan kalimat saran alih-alih penilaian negatif. Proses ini menanamkan nilai toleransi, penghargaan terhadap perbedaan selera dan gaya berekspresi, serta kemampuan menerima umpan balik secara dewasa sejak usia dini.
Dengan demikian, WhatsApp Web tidak lagi sekadar menjadi sarana komunikasi administratif, melainkan bertransformasi menjadi ruang belajar yang memajukan kecerdasan emosional dan estetika siswa sekolah dasar. Melalui galeri seni digital ini, siswa tidak hanya belajar menciptakan karya, tetapi juga memahami cara mempresentasikan hasil kreativitasnya, menerima apresiasi, serta membangun rasa saling menghargai dalam komunitas belajar. Keterampilan ini menjadi bekal penting bagi siswa untuk berpartisipasi aktif di dunia kreatif dan sosial pada masa mendatang.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia