Diplomasi Kuliner Digital: YouTube dan Canva untuk Mengenalkan Makanan Sehat Global
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dalam upaya serius mendukung pencapaian SDG 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan) serta SDG 2 (Tanpa Kelaparan), sekolah dasar kini mulai menerapkan metode pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan melalui konsep diplomasi kuliner digital. Program ini dirancang untuk mengajak siswa mengeksplorasi ragam budaya makan sehat dari berbagai negara melalui tayangan visual di YouTube, yang kemudian informasi gizi tersebut dikemas ulang menjadi poster kampanye menarik menggunakan aplikasi desain Canva. Kegiatan ini bertujuan utama untuk mengubah stigma dan persepsi siswa bahwa makanan sehat itu cenderung membosankan atau tidak enak, sekaligus memperkenalkan keragaman budaya global melalui ragam hidangan bernutrisi yang ada di seluruh dunia. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar tentang kalori dan vitamin, tetapi juga tentang seni, budaya, dan komunikasi visual dalam satu paket pembelajaran yang utuh.
Langkah awal pembelajaran dimulai dengan guru membimbing siswa secara intensif untuk menonton berbagai vlog edukatif atau film dokumenter kuliner di YouTube yang secara spesifik menyoroti menu sekolah sehat di negara-negara maju seperti Jepang (Kyushoku), Finlandia, atau pola makan Mediterania yang terkenal menyehatkan. Siswa diminta untuk mengamati secara detail bahan-bahan apa saja yang dominan digunakan, bagaimana cara pengolahannya agar nutrisinya terjaga, serta proporsi gizi yang ditekankan dalam setiap penyajian video tersebut. Pemanfaatan platform YouTube memungkinkan siswa melihat visualisasi nyata dari warna-warni makanan sehat yang menggugah selera, memberikan inspirasi visual yang jauh lebih kuat dan membekas dibandingkan jika mereka hanya membaca teks deskriptif atau melihat gambar statis di buku pelajaran konvensional.
Setelah mendapatkan inspirasi yang cukup dari tayangan video, siswa kemudian bekerja dalam kelompok kolaboratif untuk merancang proyek "Menu Sehat Sekolah Impian" dengan memanfaatkan fitur-fitur kreatif di aplikasi Canva. Dalam tahap ini, mereka belajar memadukan elemen gambar makanan yang realistis, memilih jenis huruf (font) yang ceria dan mudah dibaca, serta menyusun informasi nilai gizi ke dalam tata letak desain yang terlihat profesional dan estetis. Di dalam platform Canva, siswa diberikan kebebasan berkreasi untuk membuat infografis yang menjelaskan manfaat spesifik dari sayuran tertentu atau membuat poster persuasif yang mengajak teman-temannya untuk tidak melewatkan sarapan sehat. Proses desain ini secara simultan melatih literasi digital siswa dalam menggunakan perangkat lunak dan kepekaan estetika visual mereka.
Proyek pembelajaran ini tidak berhenti pada tahap desain digital semata, tetapi dilanjutkan dengan sesi presentasi di depan kelas di mana setiap kelompok siswa harus menjelaskan alasan logis di balik pemilihan menu tersebut berdasarkan referensi video yang telah mereka tonton sebelumnya. Tahapan ini sangat krusial untuk melatih kemampuan berbicara di depan umum (public speaking), membangun kepercayaan diri, serta menyusun argumentasi logis yang berbasis bukti. Poster-poster hasil karya desain di Canva tersebut kemudian dicetak berwarna dan ditempel di area strategis seperti kantin sekolah, atau dibagikan secara digital melalui grup WhatsApp orang tua, sehingga berfungsi sebagai media kampanye gizi yang efektif yang dibuat "dari anak, oleh anak, dan untuk anak".
Melalui integrasi sinergis antara YouTube dan Canva, pendidikan gizi di sekolah dasar menjadi jauh lebih interaktif, bermakna, dan berdampak luas. Siswa tidak lagi sekadar menghafal piramida makanan secara teoritis, tetapi mereka benar-benar memahami konteks budaya di balik makanan dan bagaimana estetika penyajian dapat mempengaruhi selera makan sehat. Inovasi pembelajaran ini diharapkan mampu menciptakan generasi muda yang sadar gizi, menghargai keragaman budaya kuliner dunia, serta terampil menggunakan teknologi digital untuk tujuan promosi kesehatan masyarakat.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia