Disiplin Positif di Sekolah Dasar: Tantangan dari YouTube
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Disiplin positif merupakan pendekatan pengelolaan kelas yang menekankan pada pembentukan kesadaran diri, empati, dan tanggung jawab siswa. Pendekatan ini menghindari hukuman dan fokus pada membangun hubungan yang suportif antara guru dan murid. Dalam konteks sekolah dasar, disiplin positif sangat penting untuk membentuk karakter anak sejak usia dini. Lingkungan belajar yang aman dan hangat memungkinkan anak berkembang secara optimal. Namun, penerapan disiplin positif tidak lepas dari tantangan, terutama pada era digital.
Salah satu tantangan yang muncul berasal dari konsumsi YouTube oleh anak-anak. Banyak siswa menghabiskan waktu menonton konten yang belum tentu sesuai usia, mengandung bahasa agresif, atau memodelkan perilaku kurang sopan. Paparan konten seperti ini dapat memengaruhi regulasi emosi dan perilaku sosial anak di sekolah. Ketika perilaku agresif atau impulsif terbawa ke ruang kelas, penerapan disiplin positif menjadi lebih kompleks. Guru perlu memahami bahwa perilaku anak sering kali merupakan cerminan dari lingkungan digital yang mereka konsumsi.
Guru dapat memanfaatkan pendekatan disiplin positif untuk membangun kesadaran anak tentang perilaku yang tepat. Dengan dialog empatik, anak diajak memahami konteks perilaku mereka tanpa merasa disalahkan. Namun, pendidik juga perlu memberi edukasi literasi media agar anak lebih selektif dalam memilih tontonan YouTube. Pendampingan orang tua menjadi faktor kunci yang harus disinergikan dalam proses ini. Disiplin positif harus melibatkan kolaborasi antara sekolah dan rumah.
Selain itu, guru dapat memanfaatkan YouTube sebagai alat edukatif bila digunakan secara terarah. Banyak konten pembelajaran yang menarik dan mendukung pemahaman konsep secara visual. Guru dapat menunjukkan bahwa YouTube dapat menjadi alat belajar, bukan hanya hiburan tanpa batas. Dengan pemodelan yang tepat, anak akan belajar menilai perbedaan antara konten berkualitas dan konten yang merugikan. Literasi media mengubah tantangan menjadi kesempatan.
Pada akhirnya, disiplin positif menghadapi semakin banyak dinamika di era digital, termasuk pengaruh YouTube. Namun, pendekatan ini tetap relevan untuk membangun kesadaran diri anak dan membentuk perilaku prososial. Dengan pemahaman literasi media dan pendampingan yang tepat, tantangan perilaku dapat dikelola secara konstruktif. Guru, orang tua, dan teknologi harus berjalan selaras dalam membentuk generasi yang berkarakter kuat. Disiplin positif tetap menjadi kompas dalam lingkungan belajar modern.
###
Penulis: Arumita Wulan Sari