Disrupsi Digital atau Erosi Kognitif? Menakar Rendahnya Mutu SD dalam Hasil TKA
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di saat pemerintah gencar mempromosikan penyebaran perangkat digital dan koneksi internet di sekolah-sekolah, hasil TKA 2025 justru memberikan tamparan keras bagi dunia pendidikan dengan menunjukkan penurunan kualitas kognitif siswa SD. Data nasional yang dirilis pada awal 2026 ini merekam penurunan kemampuan konsentrasi dan analisis mendalam yang sangat linear dengan temuan buruk PISA beberapa tahun terakhir. Fenomena ini menciptakan paradoks pendidikan yang mencemaskan, di mana akses terhadap informasi digital meningkat secara eksponensial, namun kapasitas siswa untuk menyaring, mengolah, dan menganalisis informasi tersebut justru merosot tajam ke titik terendah.
Analisis dari berbagai riset tingkat pascasarjana menunjukkan bahwa paparan konten digital berdurasi singkat dan stimulan tinggi telah mengubah cara kerja otak siswa sekolah dasar menjadi lebih dangkal dalam memproses informasi. Hasil TKA 2025 merekam kegagalan massal siswa dalam menjawab soal-soal yang membutuhkan fokus berkelanjutan selama lebih dari sepuluh menit tanpa interupsi. Hal ini memvalidasi kekhawatiran PISA mengenai rendahnya ketahanan belajar (learning resilience) siswa Indonesia saat menghadapi tugas yang kompleks. Kita tengah menghadapi tantangan serius berupa erosi kognitif yang disebabkan oleh pola konsumsi media digital yang tidak terkendali.
Fakta di lapangan mengungkapkan bahwa banyak sekolah dasar terjebak pada penggunaan gawai hanya sebagai pengganti buku teks digital atau sekadar untuk mengerjakan kuis daring yang sifatnya repetitif. Penggunaan teknologi yang semu ini tidak melatih kemampuan kognitif tingkat tinggi, melainkan justru memperlemah daya ingat jangka panjang siswa. Hasil TKA 2025 menunjukkan bahwa siswa yang terlalu bergantung pada bantuan mesin pencari memiliki skor penalaran yang lebih rendah dibandingkan mereka yang masih dilatih melakukan riset perpustakaan konvensional. Sudut pandang ini menegaskan bahwa mutu pendidikan dasar sangat bergantung pada keseimbangan antara alat digital dan proses mental manusia.
Banyak ahli berpendapat bahwa gangguan perhatian (attention deficit) yang dipicu oleh lingkungan digital membuat siswa kesulitan memahami struktur bahasa yang kompleks dan logika saintifik. Dalam ujian TKA 2025, ditemukan bahwa siswa kelas akhir SD seringkali melewatkan instruksi soal yang panjang dan langsung melompat pada pilihan jawaban secara spekulatif. Pola perilaku ini mencerminkan budaya "klik dan geser" yang mendominasi kehidupan sehari-hari mereka, namun sangat merugikan dalam konteks akademik formal. Jika hal ini dibiarkan, pendidikan kita hanya akan melahirkan lulusan yang pandai mengoperasikan perangkat, namun tumpul dalam melakukan pemikiran orisinal.
Selain itu, dampak negatif digitalisasi tanpa pengawasan juga terlihat pada penurunan kemampuan literasi sosial dan empati siswa, yang secara tidak langsung memengaruhi iklim belajar di kelas. Mutu kognitif tidak dapat dipisahkan dari stabilitas emosional; siswa yang terpapar konten negatif atau kecanduan gim daring cenderung memiliki motivasi belajar yang rendah di sekolah. Hasil TKA 2025 mengonfirmasi bahwa sekolah-sekolah dengan kebijakan pembatasan gawai yang ketat justru memiliki rata-rata nilai akademik yang lebih tinggi dan konsisten. Hal ini memberikan pelajaran berharga bahwa intervensi teknologi harus dibatasi oleh batasan pedagogis yang jelas.
Analisis mendalam ini juga menyoroti peran guru yang seringkali merasa kalah bersaing dengan daya tarik perangkat digital di tangan siswa. Pendidikan dasar saat ini membutuhkan guru yang bukan hanya "melek teknologi", melainkan "ahli teknologi" yang mampu merancang pengalaman belajar di mana digitalisasi memperkuat, bukan menggantikan, proses berpikir kritis. Kegagalan mencapai target PISA adalah bukti bahwa perangkat canggih di tangan yang salah tidak akan pernah meningkatkan kualitas manusia. Penjagaan mutu harus kembali pada esensi pendidikan: pengembangan kapasitas intelektual melalui tantangan mental yang nyata.
Kita tidak bisa lagi menutup mata bahwa teknologi tanpa landasan pedagogi yang kuat justru bisa menjadi bumerang bagi mutu pendidikan nasional secara keseluruhan. Temuan TKA 2025 harus menjadi momentum bagi para pengambil kebijakan untuk mendesain ulang integrasi teknologi di sekolah dasar agar berfungsi sebagai alat bantu pikir, bukan pengganti proses berpikir. Masa depan kedaulatan intelektual anak-anak kita bergantung pada keberanian kita melakukan koreksi atas euforia digital yang selama ini seringkali mengabaikan substansi kualitas kognitif dan kedalaman pemahaman.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah