Dominasi Hafalan atas Nalar: Akar Penyebab Skor TKA Nasional Terjun Bebas
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang terjun bebas pada periode ini menjadi bukti otentik betapa sistem pendidikan kita masih terpenjara dalam paradigma hafalan yang membunuh nalar siswa sejak tingkat Sekolah Dasar (SD). Fenomena ini terdeteksi ketika para penguji menemukan pola jawaban siswa yang sangat kaku dan kesulitan menghadapi soal-soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS). Akademisi dari berbagai universitas terkemuka kini menuding pengabaian terhadap pengembangan nalar di SD sebagai tersangka utama di balik jatuhnya standar akademik nasional, sebuah isu yang selama ini tertutup oleh gemerlapnya angka-angka kelulusan formal yang tinggi namun semu.
Di jenjang SD, penekanan pada "apa" yang dipelajari jauh lebih mendominasi dibandingkan "mengapa" dan "bagaimana" sesuatu itu bekerja. Praktik pengajaran matematika, misalnya, seringkali hanya berfokus pada kecepatan menghitung tanpa membangun pemahaman logika ruang dan angka. Akibatnya, ketika siswa beranjak dewasa dan mengikuti TKA, mereka gagal menerapkan konsep matematika dalam konteks pemecahan masalah yang kompleks. Budaya belajar yang tidak merangsang rasa penasaran intelektual ini telah menciptakan generasi "penerima informasi pasif" yang tidak siap menghadapi tantangan akademik di tingkat yang lebih tinggi.
Rendahnya nilai TKA ini juga merupakan refleksi dari kurangnya integrasi antara literasi bahasa dan kemampuan bernalar di tingkat dasar. Siswa mungkin mampu membaca teks secara fasih, namun gagal dalam melakukan inferensi atau memahami makna tersirat. Kegagalan literasi fungsional di SD ini berakibat fatal saat siswa harus mencerna instruksi-instruksi TKA yang menuntut analisis mendalam. Jika dasar-dasar pemahaman teks tidak dituntaskan di bangku SD, maka siswa akan terus mengalami kesulitan dalam menyerap ilmu pengetahuan di jenjang manapun. Fokus pendidikan dasar harus segera dikembalikan pada penguatan kompetensi inti, bukan lagi pada banyaknya mata pelajaran yang membingungkan.
Selain itu, sistem evaluasi di SD yang masih sering menggunakan tes pilihan ganda sederhana turut andil dalam menumpulkan daya kritis siswa. Siswa tidak dilatih untuk berargumentasi atau menjelaskan proses berpikir mereka, sehingga saat menghadapi ujian yang menuntut kejernihan logika seperti TKA, mereka cenderung melakukan spekulasi ketimbang deduksi. Perlu ada perubahan drastis dalam cara kita menguji siswa di tingkat dasar; ujian harus menjadi sarana diagnosis kemampuan berpikir, bukan sekadar alat sortir administratif. Tanpa perubahan instrumen evaluasi, motivasi belajar siswa akan tetap terjebak pada pencapaian nilai tanpa pemahaman esensial.
Keprihatinan ini harus segera diterjemahkan ke dalam kebijakan yang nyata, yakni dengan memperkuat kurikulum literasi dan numerasi berbasis nalar di SD. Pemerintah perlu menginisiasi program pendampingan bagi guru SD untuk beralih dari metode ceramah tradisional ke metode inkuiri yang lebih dinamis. Kualitas pendidikan tinggi kita hanya akan meningkat jika kita berani melakukan "bedah total" terhadap praktik pembelajaran di SD. Masa depan daya saing global Indonesia sangat bergantung pada kemampuan kita mengubah sekolah dasar dari pusat hafalan menjadi pusat penalaran.
Sebagai penutup, skor TKA yang rendah adalah sinyal bahwa kita sedang memanen kegagalan yang kita tanam sejak di bangku sekolah dasar. Kita tidak bisa mengharapkan buah yang manis dari pohon dengan akar yang sudah terserang penyakit hafalan. Mari kita bangun kembali fondasi pendidikan nasional dengan mengutamakan kualitas logika dan nalar sejak anak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah. Mutu pendidikan adalah perjalanan panjang yang keberhasilannya ditentukan oleh langkah pertama yang benar di jenjang sekolah dasar.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah