Dosen dan Ujian Integritas Akademik dalam Membendung Gelombang Plagiarisme Terselubung Berbasis Algoritma
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Integritas akademik saat ini berada di bawah tekanan besar akibat munculnya gelombang plagiarisme terselubung yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan canggih. Dosen sebagai penjaga moralitas di kampus menghadapi ujian berat dalam mendeteksi karya-karya yang terlihat orisinal namun sebenarnya diproduksi oleh mesin. Plagiarisme model baru ini tidak lagi berupa sekadar tindakan menyalin dan menempel teks, melainkan refrasa otomatis yang sangat sulit dideteksi oleh perangkat lunak orisinalitas konvensional. Kondisi ini menuntut dosen untuk memiliki kepekaan analitis yang lebih tajam dalam mengenali gaya bahasa dan kedalaman pemikiran mahasiswa. Ujian integritas ini bukan hanya ditujukan bagi mahasiswa, melainkan juga bagi dosen dalam menjaga kualitas proses bimbingan akademik. Tanpa kewaspadaan yang tinggi, gelar akademik terancam kehilangan nilai substansialnya di mata masyarakat luas dan industri profesional. Oleh sebab itu, penguatan standar etika di lingkungan universitas menjadi kebutuhan yang sangat mendesak untuk segera diimplementasikan secara tegas.
Membendung gelombang plagiarisme berbasis algoritma memerlukan strategi yang lebih komprehensif daripada sekadar mengandalkan teknologi deteksi yang terkadang masih memiliki celah. Dosen harus mampu menciptakan sistem evaluasi yang menekankan pada proses autentik, seperti presentasi lisan atau ujian terbuka yang bersifat spontan. Keterlibatan dosen dalam setiap tahapan riset mahasiswa dapat menjadi benteng efektif untuk memastikan bahwa ide yang tertuang adalah murni hasil pemikiran manusia. Jika dosen hanya berperan di akhir proses sebagai pemberi nilai, maka peluang terjadinya kecurangan akademik akan semakin terbuka lebar. Integritas adalah harga mati dalam dunia pendidikan tinggi yang tidak boleh dikompromikan demi alasan efisiensi atau tuntutan administratif. Mahasiswa perlu diberikan edukasi secara kontinu mengenai batasan penggunaan teknologi agar tidak terjerumus dalam praktik ketidakjujuran yang sistemik. Kejujuran intelektual harus ditanamkan sebagai identitas utama setiap individu yang mengecap pendidikan di perguruan tinggi negeri maupun swasta.
Dilema yang dihadapi oleh banyak pendidik adalah kecepatan evolusi algoritma yang sering kali melampaui kemampuan regulasi yang ada di kampus. Plagiarisme terselubung menciptakan ilusi produktivitas yang dapat menipu dosen jika tidak dibekali dengan literasi digital yang mumpuni dan berkelanjutan. Dosen dituntut untuk terus memperbarui pengetahuan mereka tentang perkembangan alat-alat kecerdasan buatan yang sering digunakan oleh mahasiswa untuk memanipulasi tugas. Selain itu, diperlukan adanya sanksi akademik yang tegas namun mendidik untuk memberikan efek jera terhadap segala bentuk pelanggaran integritas. Budaya akademik yang sehat hanya bisa tumbuh jika ada transparansi dan tanggung jawab penuh dari seluruh civitas akademika di universitas. Kita tidak boleh membiarkan kemajuan teknologi justru meruntuhkan fondasi kejujuran yang telah dibangun oleh para pendahulu ilmu pengetahuan. Tantangan ini harus dihadapi dengan keberanian intelektual dan inovasi dalam metode pengawasan yang lebih personal dan sangat mendalam.
Dalam konteks penulisan tesis atau disertasi, peran dosen pembimbing menjadi sangat krusial dalam memantau orisinalitas ide dari waktu ke waktu. Diskusi tatap muka yang rutin dapat membantu dosen memahami perkembangan cara berpikir mahasiswa secara lebih detail dan sangat komprehensif. Dosen harus mampu mendeteksi jika terjadi perubahan gaya bahasa yang mendadak atau ketidakkonsistenan argumen dalam draf tulisan yang diserahkan mahasiswa. Keberadaan algoritma seharusnya memotivasi dosen untuk memberikan tantangan riset yang lebih bersifat orisinal dan berbasis data lapangan primer. Riset yang bersifat eksperimental dan kontekstual akan jauh lebih sulit untuk dipalsukan oleh kecerdasan buatan dibandingkan riset yang bersifat kepustakaan murni. Dengan demikian, kualitas karya ilmiah akan tetap terjaga integritasnya meskipun berada di tengah gempuran teknologi otomasi tulisan. Marwah universitas bergantung pada keteguhan hati para dosen dalam mempertahankan standar etika yang tinggi tanpa rasa takut.
Secara garis besar, ujian integritas akademik di era ini adalah panggilan untuk kembali ke esensi pendidikan sebagai pembentuk karakter manusia yang jujur. Dosen harus berdiri di garis depan sebagai teladan bagi mahasiswa dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan keaslian gagasan ilmiah. Kita harus menyadari bahwa teknologi adalah sarana pendukung, namun kejujuran adalah nyawa dari setiap ilmu pengetahuan yang dikembangkan di kampus. Jika gelombang plagiarisme terselubung tidak segera diatasi, maka masa depan kualitas intelektual bangsa Indonesia akan berada dalam bahaya besar. Kerja sama antara dosen, mahasiswa, dan pimpinan universitas sangat diperlukan untuk menciptakan ekosistem akademik yang bersih dari praktik kecurangan. Mari kita jadikan tantangan algoritma ini sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas interaksi manusiawi dalam proses belajar mengajar secara lebih berkualitas. Keberhasilan kita dalam menjaga integritas akademik akan menentukan tingkat kepercayaan dunia internasional terhadap lulusan perguruan tinggi dari negara kita.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.