Dosen vs Mesin: Pergeseran Peran Pendidik di Ruang Kuliah Berbasis AI
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Masuknya AI ke dalam ekosistem kampus telah memaksa para dosen untuk melakukan redefinisi peran secara radikal di awal semester 2026 ini. Dosen tidak lagi bisa memosisikan diri sebagai satu-satunya sumber informasi, karena AI mampu menyajikan data lebih cepat dan lebih luas. Pertanyaan krusialnya adalah, bagaimana dosen memastikan mahasiswa tetap benar-benar belajar ketika peran pemberi materi sudah diambil alih oleh mesin? Pergeseran dari "pemberi ilmu" menjadi "kurator kebijakan berpikir" menjadi tantangan pedagogis terbesar bagi para akademisi senior di tingkat pascasarjana.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa dosen yang masih menggunakan metode ceramah konvensional mulai kehilangan relevansinya di mata mahasiswa yang sudah "bersenjatakan" AI. Mahasiswa seringkali merasa lebih puas dengan penjelasan instan dari chatbot daripada mendengarkan kuliah panjang. Hal ini menuntut dosen untuk mengubah ruang kuliah menjadi arena diskusi dialektis yang menekankan pada kritik terhadap informasi yang diberikan oleh AI. Belajar di era ini berarti belajar untuk skeptis, dan dosen adalah mentor yang melatih ketajaman skeptisisme tersebut agar mahasiswa tidak tertipu oleh halusinasi data mesin.
Tantangan administratif juga muncul dalam hal penilaian tugas. Dosen kini harus menghabiskan waktu lebih banyak untuk merancang soal-soal yang tidak bisa dijawab dengan perintah sederhana ke AI. Analisis mendalam menunjukkan bahwa banyak dosen merasa kewalahan menghadapi kecanggihan AI yang mampu meniru gaya penulisan ilmiah dengan sangat baik. Peran dosen kini bertambah menjadi seorang validator keaslian intelektual. Penjagaan mutu akademik menjadi lebih berat karena dosen harus mampu mengenali "nuansa manusiawi" dalam setiap tugas yang dikumpulkan oleh mahasiswa, sebuah kemampuan yang menuntut kepekaan luar biasa.
Sudut pandang dari pakar psikologi pendidikan menyarankan agar dosen mulai fokus pada penguatan aspek afektif dan etika dalam pembelajaran. AI bisa mengajarkan "apa" dan "bagaimana", tetapi dosen harus mengajarkan "mengapa" dan "untuk siapa". Nilai-nilai kemanusiaan, tanggung jawab moral terhadap ilmu pengetahuan, dan integritas profesional adalah materi yang tidak bisa diajarkan secara efektif oleh algoritma. Belajar yang sesungguhnya harus menyentuh hati dan nurani, sesuatu yang hanya bisa terjadi melalui interaksi personal antara dosen dan mahasiswa di ruang kuliah yang inklusif.
Di sisi lain, AI juga memberikan peluang bagi dosen untuk keluar dari beban tugas koreksi yang repetitif dan fokus pada pendampingan riset yang lebih mendalam (mentoring). Dosen dapat memanfaatkan AI untuk menganalisis kelemahan umum di kelas dan menyesuaikan strategi pengajaran secara lebih presisi. Namun, hal ini memerlukan literasi teknologi yang tinggi dari sisi pendidik. Tanpa kemauan untuk beradaptasi, dosen justru akan menjadi penghambat kemajuan mahasiswa yang sudah melesat jauh dengan alat bantu digital. Sinergi antara kearifan manusia dan kecepatan mesin adalah kunci masa depan pendidikan tinggi.
Isu keberpihakan juga muncul ketika dosen harus menilai mahasiswa dengan latar belakang akses teknologi yang berbeda. Dosen dituntut untuk adil dan mampu mendeteksi apakah perbedaan kualitas tugas disebabkan oleh perbedaan kecerdasan atau sekadar perbedaan langganan akun AI premium. Fenomena ini menempatkan dosen dalam posisi yang sulit sebagai penegak keadilan akademik. Perguruan tinggi harus memberikan pedoman yang jelas agar dosen memiliki standar operasional yang kuat dalam menyikapi fenomena ini, sehingga proses belajar tetap berlangsung dalam koridor kejujuran dan kesetaraan.
Sebagai penutup, peran dosen di era AI justru menjadi lebih krusial sebagai penjaga gawang kualitas intelektual. Dosen adalah sosok yang harus memastikan bahwa mahasiswa tidak sekadar "tahu", tetapi juga "paham" dan "bijaksana". Jika dosen hanya menyerah pada keadaan, maka universitas akan kehilangan ruhnya sebagai tempat pembentukan karakter pemikir. Kebangkitan AI adalah momentum bagi para pendidik untuk kembali pada esensi pendidikan: memanusiakan manusia melalui ilmu pengetahuan yang jujur dan bermakna bagi peradaban.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah