Edukasi Mitigasi Bencana Berbasis Data Cuaca Besok di Sekolah Pesisir
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Sekolah-sekolah yang berada di wilayah pesisir menghadapi tantangan unik akibat perubahan iklim, seperti ancaman rob atau badai laut. Oleh karena itu, edukasi mengenai cuaca besok menjadi materi wajib yang disampaikan secara berkala kepada siswa guna membangun kesiapsiagaan bencana. Hal ini selaras dengan SDG 11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan) dan SDG 13, di mana pendidikan berperan memberikan pengetahuan praktis tentang cara merespons peringatan dini cuaca ekstrem demi keselamatan nyawa dan keberlanjutan proses belajar mengajar.
Siswa diajarkan cara membaca radar cuaca dan memahami peringatan dini dari otoritas terkait. Informasi mengenai cuaca besok dibahas di awal pelajaran geografi untuk mengaitkan teori atmosfer dengan kondisi nyata di sekitar mereka. Dengan bantuan YouTube, guru menayangkan video simulasi dampak kenaikan air laut agar siswa memiliki gambaran yang jelas tentang pentingnya menjaga lingkungan pesisir. Pendidikan yang berbasis pada risiko lokal ini membuat siswa lebih waspada dan memiliki rasa memiliki yang tinggi terhadap keselamatan komunitas mereka.
Dalam situasi darurat, koordinasi antara pihak sekolah dan tim penyelamat dilakukan melalui WhatsApp Web untuk memastikan arus informasi tetap stabil dan tidak terputus. Pihak sekolah dapat mengirimkan koordinat lokasi pengungsian atau daftar kehadiran siswa secara cepat melalui komputer di pusat komando sekolah. Teknologi komunikasi instan ini menjadi penyelamat di saat-saat kritis, memungkinkan respons yang lebih cepat dan terorganisir dalam menghadapi ancaman alam yang sulit diprediksi secara manual.
Selain itu, sekolah juga menggunakan fitur terjemah untuk memahami panduan mitigasi bencana internasional dari negara-negara yang memiliki tantangan serupa, seperti Jepang atau Belanda. Siswa diajak untuk membandingkan strategi mitigasi global dan menyesuaikannya dengan kearifan lokal. Literasi bahasa dan teknologi ini membuka cakrawala siswa bahwa masalah lingkungan adalah tantangan global yang memerlukan solusi cerdas. Pendidikan mitigasi ini diharapkan dapat mencetak generasi yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan lingkungan yang kian ekstrem.
Secara keseluruhan, integrasi data cuaca besok ke dalam kurikulum sekolah di wilayah rentan merupakan langkah strategis untuk melindungi masa depan pendidikan. Dengan membekali siswa dengan pengetahuan mitigasi dan teknologi komunikasi, kita sedang membangun komunitas yang lebih resilien. Upaya ini merupakan investasi jangka panjang dalam pembangunan berkelanjutan, memastikan bahwa tantangan iklim tidak menjadi penghalang bagi anak-anak di wilayah pesisir untuk terus belajar dan meraih cita-cita mereka dengan aman.
###
Penulis: Anisa Rahmawati