Efek Domino Pengabaian Belajar: Mengapa Literasi Dini di SD Mengalami Kemerosotan?
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kemerosotan kompetensi dasar siswa SD dalam hal membaca dan berhitung saat ini menjadi sorotan tajam, di mana evaluasi mengarah pada efek domino dari pengabaian peran orang tua dalam belajar di rumah. Sejak pandemi berakhir, ada kecenderungan orang tua mengalami "kelelahan pendampingan" dan menyerahkan sepenuhnya proses belajar ke sekolah. Dampaknya, literasi dini anak-anak kita mengalami stunting intelektual, di mana kemampuan mereka tidak berkembang sesuai dengan jenjang usianya. Fenomena ini adalah alarm dini yang menandakan bahwa sistem pendidikan dasar kita sedang dalam kondisi darurat literasi.
Literasi dini bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan pembentukan karakter pembelajar. Ketika orang tua abai mendampingi anak belajar di rumah, anak kehilangan sosok motivator yang memberikan penguatan positif atas pencapaian kecil mereka. Di sekolah dasar, pujian dan pendampingan orang tua adalah bensin bagi mesin motivasi anak. Tanpa itu, anak akan merasa bahwa belajar adalah beban yang tidak ada gunanya bagi orang-orang tersayang di rumahnya, yang akhirnya berujung pada menurunnya skor akademis secara nasional.
Evaluasi terhadap literasi digital juga menunjukkan bahwa tanpa pengawasan orang tua, penggunaan perangkat elektronik di rumah justru merusak kemampuan bahasa anak. Banyak anak SD yang terpapar konten video berdurasi pendek yang tidak membangun kemampuan berpikir runtut. Orang tua seharusnya berperan sebagai filter dan pemberi konteks terhadap informasi yang diterima anak. Literasi dini yang kuat memerlukan kemampuan untuk fokus, sementara pengabaian pendampingan membiarkan anak tumbuh dalam dunia distraksi yang mematikan daya nalar.
Selain itu, lemahnya numerasi dasar juga dipicu oleh kurangnya kepercayaan diri orang tua untuk mengajarkan matematika. Banyak orang tua yang merasa bahwa matematika adalah tugas sekolah saja, padahal di rumah adalah tempat terbaik untuk mempraktikkan konsep angka secara nyata. Peran orang tua sebagai pendamping belajar tidak harus selalu berarti mengajar, tetapi memberikan semangat dan mencari solusi bersama saat anak mengalami hambatan. Pengabaian ini menciptakan jurang pemahaman yang semakin dalam seiring bertambahnya usia anak.
Para pakar pendidikan menyarankan perlunya revitalisasi kemitraan antara sekolah dan orang tua. Sekolah harus aktif memberikan panduan evaluasi mandiri bagi orang tua untuk melihat sejauh mana perkembangan literasi anak di rumah. Kesadaran bahwa kesuksesan anak di sekolah adalah hasil dari "masakan bersama" antara guru dan orang tua harus dikembalikan. Pengabaian salah satu pihak akan membuat hasil pendidikan menjadi hambar dan tidak berkualitas, yang pada akhirnya merugikan masa depan bangsa.
Kita harus segera mengakhiri siklus pengabaian ini jika ingin melihat generasi yang unggul dan kompetitif. Literasi dini adalah hak setiap anak, dan orang tua adalah penjamin utama hak tersebut terpenuhi di lingkungan rumah. Evaluasi terhadap rutinitas di rumah harus dilakukan secara jujur: sudahkah kita memberikan waktu yang cukup untuk belajar bersama anak hari ini? Masa depan literasi bangsa Indonesia tidak ditentukan oleh gedung-gedung sekolah yang megah, melainkan oleh kehangatan bimbingan orang tua di rumah-rumah sederhana kita.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah