Efektivitas YouTube dan ChatGPT dalam Menunjang Prestasi Siswa Penerima PIP
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Program Indonesia Pintar (PIP) telah memberikan napas baru bagi siswa dari keluarga prasejahtera untuk terus mengejar cita-cita mereka. Untuk mendukung potensi akademis para penerima PIP Kemendikdasmen, sekolah mulai memperkenalkan penggunaan ChatGPT sebagai tutor belajar pribadi yang dapat diakses secara gratis. Siswa diajarkan cara bertanya (prompting) yang efektif untuk membedah materi pelajaran yang sulit, sehingga kendala biaya bimbingan belajar tambahan dapat diatasi dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan, mendukung pencapaian SDG 4.
Selain AI, platform YouTube juga menjadi sumber belajar yang tak ternilai bagi para siswa penerima bantuan. Mereka diarahkan untuk mengikuti kanal-kanal pendidikan yang menyajikan video pembelajaran interaktif mengenai matematika, sains, hingga bahasa Inggris. Dengan visualisasi yang menarik, materi yang sulit dipahami di kelas dapat dipelajari kembali di rumah secara mandiri. Pendidikan mandiri ini sangat membantu dalam menyetarakan peluang akademik antara siswa dari latar belakang ekonomi yang berbeda, menciptakan keadilan akses dalam sistem pendidikan nasional.
Pihak sekolah juga memanfaatkan WhatsApp Web untuk melakukan pendampingan belajar bagi siswa penerima PIP. Guru dapat mengirimkan tugas tambahan atau memberikan jawaban atas kesulitan belajar yang dihadapi siswa melalui pesan instan di komputer. Koordinasi yang intensif ini memastikan bahwa siswa tetap termotivasi dan merasa didukung oleh institusi pendidikan mereka. Teknologi komunikasi menjadi jembatan yang menghubungkan aspirasi siswa dengan sumber daya yang ada, meminimalkan risiko putus sekolah akibat kurangnya pendampingan akademik.
Dalam pengoperasian situs resmi untuk cek PIP, siswa seringkali dibantu dengan fitur terjemah pada browser mereka jika menghadapi navigasi yang menggunakan istilah asing. Kemampuan navigasi digital sederhana ini merupakan bagian dari literasi teknologi yang sangat berguna bagi masa depan mereka. Dengan terbiasa mengurus urusan administrasi secara digital, siswa menjadi lebih percaya diri dan memiliki kemandirian yang tinggi dalam menghadapi sistem birokrasi modern yang serba otomatis dan berbasis internet.
Singkatnya, sinergi antara dana bantuan pemerintah dan pemanfaatan teknologi informasi telah membuka jalan bagi siswa kurang mampu untuk meraih prestasi tinggi. YouTube dan ChatGPT telah menjadi alat pemberdayaan yang efektif dalam menjembatani jurang pengetahuan. Upaya ini diharapkan terus didorong agar bantuan finansial yang diterima melalui PIP dapat dibarengi dengan peningkatan kompetensi digital, sehingga setiap anak Indonesia memiliki modal yang cukup untuk bersaing dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa di masa depan.
###
Penulis: Anisa Rahmawati