Efisiensi AI dan Upaya Mempertahankan Esensi Pendidikan Humanis
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Implementasi kecerdasan buatan di lingkungan akademik telah menciptakan paradoks besar antara efisiensi yang ditawarkan dan esensi pendidikan humanis yang seharusnya dijaga. AI generatif menjanjikan kecepatan luar biasa dalam pengumpulan informasi dan penyelesaian tugas mahasiswa yang sebelumnya membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk dapat diselesaikan secara manual. Namun, di balik efisiensi tersebut terdapat risiko hilangnya proses kontemplasi dan refleksi mendalam yang menjadi jantung dari pendidikan manusiawi di tingkat perguruan tinggi. Dosen kini menghadapi tantangan berat untuk memastikan bahwa kemudahan teknologi tidak mereduksi mahasiswa menjadi sekadar operator mesin yang kehilangan kepekaan rasa dan logika kritis. Penjaminan pendidikan berkualitas memerlukan upaya sadar untuk tetap menempatkan manusia sebagai subjek utama yang berdaulat dalam setiap proses pengambilan keputusan akademik yang sangat penting. Pendidikan bukan hanya soal mentransfer data tetapi soal membangun jiwa dan kepribadian mahasiswa agar memiliki empati terhadap persoalan kemanusiaan yang ada. Paradoks ini harus dikelola dengan bijak agar teknologi justru memperkaya nilai-nilai kemanusiaan, bukan malah menghapuskannya dari ruang lingkup akademik.
Upaya mempertahankan esensi pendidikan humanis di era AI menuntut dosen untuk beralih dari metode pengajaran yang bersifat mekanistik menuju pendekatan yang lebih dialogis dan personal. Dosen harus mampu menciptakan ruang-ruang diskusi yang hangat di mana mahasiswa merasa didengar dan dihargai pendapatnya sebagai seorang individu yang unik dan otentik. Efisiensi yang ditawarkan oleh kecerdasan buatan sering kali mengabaikan keindahan dari sebuah proses belajar yang penuh dengan pergulatan batin dan usaha keras secara intelektual. Penjaminan mutu pendidikan berkualitas mencakup perlindungan terhadap hak mahasiswa untuk mengalami kegagalan dan belajar dari kesalahan mereka tanpa tekanan otomatisasi yang serba sempurna. Mahasiswa perlu diingatkan bahwa kecerdasan sejati tidak hanya diukur dari kecepatan memberikan jawaban tetapi dari kebijaksanaan dalam memahami setiap pertanyaan yang muncul dalam kehidupan. Tantangan dosen dalam menjamin pendidikan berkualitas adalah bagaimana mengintegrasikan AI tanpa harus mengorbankan hubungan emosional yang menjadi fondasi dari proses pendidikan yang efektif. Pendidikan humanis tetap relevan karena ia mengajarkan nilai-nilai yang tidak akan pernah bisa diprogram ke dalam algoritma mana pun oleh para pengembang teknologi.
Secara filosofis, pendidikan adalah proses pembebasan manusia dari segala bentuk keterbelakangan mental dan ketergantungan pada alat yang dapat mematikan daya kreativitas murni. Paradoks efisiensi AI menuntut para akademisi untuk merumuskan kembali standar keberhasilan belajar yang tidak hanya terpaku pada angka-angka statistik dan kecepatan penyelesaian studi. Dosen harus berperan aktif dalam menjaga agar kampus tetap menjadi lingkungan yang menumbuhkan rasa ingin tahu, keberanian berekspresi, serta kepedulian sosial yang tinggi bagi seluruh mahasiswanya. Penjaminan kualitas pendidikan di tengah arus digitalisasi harus didasarkan pada prinsip bahwa teknologi adalah pelayan bagi kemajuan manusia dan bukan sebaliknya yang justru memperbudak pemikiran. Mahasiswa perlu dibekali dengan kecerdasan emosional agar mereka mampu menyikapi setiap tantangan zaman dengan ketenangan dan kejernihan nurani yang sangat dalam. Universitas harus tetap menjadi wadah bagi pengembangan seluruh potensi manusia secara utuh yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang dan proporsional. Melalui bimbingan dosen yang inspiratif, mahasiswa akan mampu melampaui kemampuan mesin dalam menciptakan solusi-solusi yang berjiwa dan berdampak positif bagi masyarakat luas.
Tantangan teknis dalam mengelola paradoks ini juga melibatkan penyusunan kebijakan akademik yang mendukung penggunaan teknologi secara etis dan bertanggung jawab di lingkungan universitas. Dosen perlu diberikan kebebasan untuk bereksperimen dengan metode pengajaran yang tetap mengedepankan sisi kemanusiaan meskipun berada di tengah kepungan alat-alat digital yang sangat dominan. Penjaminan pendidikan berkualitas mensyaratkan adanya evaluasi berkala terhadap dampak penggunaan AI terhadap kesehatan mental dan perkembangan intelektual mahasiswa secara jangka panjang dan berkelanjutan. Institusi pendidikan tinggi harus berani mengambil posisi sebagai penjaga nilai-nilai universal di tengah perubahan gaya hidup yang semakin terfragmentasi oleh pengaruh teknologi informasi yang masif. Dosen sebagai ujung tombak pendidikan humanis harus memiliki integritas yang kuat agar dapat membimbing mahasiswa menuju jalan kebenaran yang tidak bisa dimanipulasi oleh kecerdasan buatan. Sinergi antara efisiensi mesin dan kearifan manusia akan menciptakan peradaban baru yang lebih cerdas namun tetap menjunjung tinggi martabat kemanusiaan yang luhur. Masa depan pendidikan berkualitas akan sangat cerah jika kita mampu menempatkan teknologi sebagai sarana untuk mencapai kemuliaan hidup manusia yang sejati dan bermartabat.
Sebagai penutup, paradoks efisiensi AI harus dihadapi dengan kesadaran penuh bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia yang tidak akan pernah tergantikan oleh sirkuit elektronik apa pun. Dosen memiliki tanggung jawab sejarah untuk memastikan bahwa esensi pendidikan humanis tetap lestari di tengah badai disrupsi teknologi yang datang menerjang seluruh aspek kehidupan. Kualitas pendidikan tinggi di Indonesia akan sangat bergantung pada keberanian kita untuk mempertahankan nilai-nilai kejujuran, kerja keras, dan empati sebagai kurikulum kehidupan yang utama. Mari kita jadikan kecerdasan buatan sebagai alat untuk memperluas cakrawala berpikir kita namun tetap memegang teguh kendali atas hati nurani dan akal budi yang jernih. Pendidikan berkualitas adalah hak setiap anak bangsa yang harus diperjuangkan dengan segenap jiwa oleh para pendidik yang visioner dan berhati tulus bagi kemajuan umat manusia. Dengan semangat humanisme, kita akan mampu mengubah tantangan teknologi menjadi peluang emas untuk menciptakan dunia yang lebih baik, lebih adil, dan lebih manusiawi bagi generasi mendatang. Selamat berjuang bagi para penjaga gerbang ilmu pengetahuan dalam mencetak pemimpin masa depan yang cerdas secara akal dan mulia secara budi pekerti yang luhur.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.