Erosi Kedisiplinan Akademik di Balik Euforia Libur Panjang Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Fenomena libur panjang sering kali dipandang sebagai ruang rekreasi psikologis bagi siswa sekolah dasar setelah melewati kurikulum yang padat. Namun, di balik kegembiraan tersebut, terdapat ancaman laten berupa pengikisan kedisiplinan akademik yang telah dibangun selama berbulan-bulan di kelas. Masa transisi dari lingkungan yang terstruktur menuju kebebasan total tanpa jadwal sering kali membuat siswa kehilangan orientasi belajar. Tanpa adanya pengawasan yang konsisten, habituasi positif seperti bangun pagi dan membaca buku perlahan mulai ditinggalkan oleh siswa. Kondisi ini mencerminkan bahwa kegembiraan jangka pendek dapat mengorbankan ketertiban perilaku belajar dalam jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan strategi integrasi antara hiburan dan edukasi agar kedisiplinan tidak luntur begitu saja.
Erosi disiplin ini terlihat jelas ketika siswa kembali ke sekolah dengan konsentrasi yang jauh menurun dibandingkan sebelumnya. Guru sering kali harus menghabiskan waktu berminggu-minggu hanya untuk memulihkan atmosfer belajar yang kondusif di dalam kelas. Proses pengulangan ini mengakibatkan alokasi waktu untuk materi baru menjadi terhambat secara signifikan. Kecenderungan siswa untuk meremehkan tugas-tugas ringan menjadi indikator awal terjadinya degradasi tanggung jawab akademik. Jika pola ini terus berulang tanpa intervensi, maka kualitas karakter disiplin siswa akan sulit mencapai standar yang diharapkan. Masalah ini bukan sekadar tentang waktu yang hilang, melainkan tentang runtuhnya fondasi mental pembelajar.
Secara teoritis, perkembangan kognitif dan perilaku anak usia sekolah dasar sangat bergantung pada pengulangan serta konsistensi lingkungan. Libur panjang yang tanpa kontrol menciptakan diskoneksi antara teori kedisiplinan di sekolah dengan realitas keseharian di rumah. Banyak orang tua yang justru memberikan kelonggaran berlebihan dengan alasan memberikan hak istirahat bagi sang anak. Padahal, relaksasi yang tidak terukur berpotensi menghapus memori prosedural anak mengenai tata tertib belajar yang efektif. Ketidakhadiran struktur selama liburan memaksa otak anak untuk beradaptasi dengan pola hidup yang serba tidak teratur. Akibatnya, pemulihan ritme belajar memerlukan energi psikologis yang lebih besar bagi siswa maupun pendidik.
Dampak jangka panjang dari fenomena ini berkaitan erat dengan kemampuan siswa dalam mengelola waktu di masa depan. Kedisiplinan yang rapuh pada tingkat dasar akan menjadi beban saat mereka menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Siswa yang terbiasa lepas kendali saat liburan cenderung memiliki motivasi intrinsik yang rendah dalam menyelesaikan tantangan akademik. Mereka akan selalu bergantung pada stimulasi eksternal atau paksaan untuk memulai sebuah aktivitas produktif. Hal ini tentu bertolak belakang dengan visi pendidikan yang ingin mencetak generasi mandiri dan berintegritas. Penurunan standar disiplin secara masif dapat berujung pada stagnasi prestasi nasional jika tidak segera ditangani secara serius.
Sebagai solusi, kolaborasi antara institusi pendidikan dan keluarga harus diperkuat melalui panduan kegiatan mandiri yang terukur selama masa libur. Pemberian proyek kreatif yang bersifat rekreatif namun tetap menuntut tanggung jawab dapat menjadi jembatan yang efektif. Guru dapat merancang modul aktivitas yang menjaga agar fungsi kognitif dan afektif siswa tetap terstimulasi secara optimal. Selain itu, edukasi bagi orang tua mengenai pentingnya menjaga jadwal rutin anak di rumah menjadi sangat krusial. Dengan langkah preventif yang sistematis, euforia liburan tidak akan lagi menjadi momok bagi keberlangsungan disiplin akademik siswa. Sinergi ini diharapkan mampu menjaga api semangat belajar tetap menyala meskipun siswa berada di luar lingkungan formal sekolah.
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.