Etika vs Efisiensi: Dilema Integritas Akademik Mahasiswa di Tengah Badai AI
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Ruang kuliah pascasarjana kini sedang menghadapi dilema etika terbesar abad ini ketika batas antara kolaborasi manusia-mesin dan plagiarisme digital menjadi semakin kabur. Sejak awal semester tahun 2026, penggunaan AI dalam penyusunan tugas akhir telah menjadi rahasia umum yang menantang kode etik universitas di seluruh Indonesia. Isu utamanya bukan lagi sekadar larangan penggunaan teknologi, melainkan bagaimana memastikan mahasiswa masih benar-benar melewati proses pembelajaran yang jujur ketika efisiensi yang ditawarkan AI begitu menggiurkan bagi mereka yang dikejar tenggat waktu riset.
Masalah integritas ini berakar pada kemampuan AI untuk memproduksi teks yang lolos dari deteksi plagiarisme konvensional. Mahasiswa seringkali terjebak dalam pembenaran bahwa selama ide dasarnya milik mereka, maka pengembangan kalimat oleh AI adalah sah. Namun, dalam tradisi akademik, proses artikulasi ide melalui tulisan adalah bagian integral dari pematangan berpikir. Jika tulisan tersebut disusun oleh mesin, maka proses pematangan itu tidak pernah terjadi. Belajar di tingkat S2 adalah belajar tentang ketelitian berbahasa dan logika narasi; delegasi tugas ini kepada AI berarti mahasiswa telah merampas hak mereka sendiri untuk tumbuh secara intelektual.
Data dari dewan etik perguruan tinggi menunjukkan peningkatan kasus "plagiarisme gaya baru", di mana struktur dan data dalam esai mahasiswa ditemukan identik dengan pola keluaran model bahasa tertentu. Hal ini menciptakan ketidakadilan bagi mahasiswa yang berjuang secara manual dan jujur. Tanpa adanya regulasi yang ketat dan transparan, universitas terancam mengalami inflasi nilai, di mana skor tinggi tidak lagi mencerminkan kompetensi yang sesungguhnya. Krisis kepercayaan ini dapat merusak reputasi institusi pendidikan tinggi di mata dunia industri dan masyarakat internasional.
Dari sudut pandang pengajaran, dosen kini memegang beban ganda sebagai pendidik sekaligus "detektif digital". Waktu yang seharusnya digunakan untuk diskusi substansi materi tersita untuk memverifikasi keaslian karya mahasiswa. Fenomena ini menurunkan kualitas interaksi akademik di ruang kuliah. Jika dosen selalu curiga dan mahasiswa selalu mencari celah untuk curang, maka roh pencarian kebenaran di kampus akan digantikan oleh permainan kucing-kucingan antara manusia dan algoritma. Kondisi ini sangat kontraproduktif bagi iklim riset nasional yang membutuhkan orisinalitas dan kejujuran ilmiah yang tinggi.
Pakar etika teknologi menyarankan agar kurikulum mulai mengajarkan "Etika AI" secara eksplisit kepada mahasiswa. Mahasiswa harus memahami konsekuensi moral dari penggunaan teknologi yang tidak bertanggung jawab terhadap masa depan karir mereka. Plagiarisme digital mungkin memberikan keuntungan jangka pendek berupa kelulusan yang cepat, namun ia meninggalkan cacat permanen pada integritas profesional seseorang. Belajar yang benar di ruang kuliah adalah tentang menghargai proses dan menghormati hak intelektual, baik milik orang lain maupun potensi diri sendiri yang tidak boleh tumpul karena bantuan mesin.
Di sisi lain, universitas juga harus beradaptasi dengan tidak hanya melarang, tetapi mendesain metode evaluasi yang "tahan AI". Penguatan ujian lisan, debat terbuka, dan proyek kolaboratif di kelas menjadi sangat relevan. Mahasiswa harus dipaksa untuk menunjukkan proses berpikir mereka secara langsung di depan audiens. Dengan cara ini, keaslian pemahaman dapat teruji secara lebih komprehensif. Perubahan ini menuntut kreativitas dosen dalam menciptakan tugas-tugas yang menuntut empati, emosi, dan pertimbangan etis—tiga hal yang hingga saat ini merupakan benteng terakhir manusia yang tidak bisa dimasuki oleh AI.
Integritas akademik adalah fondasi dari seluruh bangunan ilmu pengetahuan, dan AI tidak boleh dibiarkan merobohkannya. Mahasiswa perlu menyadari bahwa nilai sebuah gelar terletak pada kejujuran proses pembelajaran, bukan pada kesempurnaan dokumen yang dihasilkan oleh bot. Perjuangan melawan kemalasan intelektual adalah ujian karakter yang sesungguhnya di ruang kuliah masa kini. Jika kita gagal memenangkan pertempuran etika ini, maka masa depan ilmu pengetahuan akan dipenuhi oleh pakar-pakar semu yang hanya pandai memerintah mesin tanpa memiliki kedalaman jiwa dan kejujuran nalar.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah