Facebook sebagai Komunitas Belajar Orang Tua & Guru SD
Di banyak sekolah dasar,
komunikasi antara guru dan orang tua masih menjadi tantangan klasik. Surat
edaran sering hilang di dalam tas, undangan rapat tidak terbaca, atau informasi
kegiatan baru diketahui di menit-menit akhir. Facebook, meski dianggap “platform
orang tua”, justru menemukan panggung terbaiknya di komunitas pendidikan dasar.
Ambil contoh sebuah kelas 2 di
Surabaya. Gurunya mengunggah foto kegiatan sains: anak-anak meniup balon
menggunakan reaksi cuka dan soda kue. Orang tua pun melihat proses belajar anak
mereka, bukan hanya hasil akhirnya. Mereka memberikan komentar penyemangat:
“Wah, keren!”, “Anakku jadi suka eksperimen nih, Bu!” Komentar kecil yang
membangun ini memperkuat kepercayaan diri anak bahwa proses belajarnya
dihargai.
Facebook memberi ruang transparansi.
Orang tua yang bekerja dan tidak dapat selalu hadir ke sekolah tetap dapat
mengikuti perkembangan anak melalui unggahan guru. Kegiatan literasi, lomba,
hingga tugas proyek dapat tersimpan rapi dalam satu grup tertutup yang aman.
Guru pun dapat menjelaskan konsep belajar yang mereka terapkan, sehingga orang
tua memahami bagaimana mendukung anak di rumah.
Tidak hanya itu, Facebook juga
memperkuat komunitas guru. Grup akademik yang aktif berbagi
RPP, ide media ajar, hingga webinar gratis, membantu guru terus belajar tanpa
meninggalkan kelas. Ketika seorang guru menemukan ide pembelajaran
kreatif—misalnya permainan matematika dari kardus bekas—ia dapat membagikan dan
menginspirasi ratusan guru lainnya.
Namun, kita tidak boleh menutup
mata. Media sosial adalah ruang publik yang rentan kesalahpahaman. Ada orang
tua yang terlalu emosional, ada pula yang menuntut guru membalas pesan secepat
kilat. Tak jarang privasi anak dipertaruhkan ketika foto wajah disebarkan
terlalu luas. Karena itu, etika digital harus menjadi fondasi. Grup perlu
diatur dengan aturan yang jelas: fokus pada pembelajaran, bukan gosip; hormat,
bukan menyalahkan; privasi, bukan sensasi.
Di tengah perubahan zaman,
Facebook menjadi jembatan yang menjaga sekolah dan rumah tetap
terhubung. Pendidikan anak tidak hanya berlangsung di kelas. Ia adalah
perjalanan bersama. Dan selama komunikasi tetap hangat dan terarah, Facebook
dapat menjadi komunitas yang memperkuat semua pihak yang peduli pada masa depan
anak-anak kita.
Penulis: Windha Ana Sevia