Fenomena IPK Melangit dan Redupnya Etos Belajar Mahasiswa dalam Labirin Formalisme Pendidikan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Tren kenaikan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang sangat drastis di berbagai perguruan tinggi kini menjadi sorotan tajam bagi pemerhati pendidikan di tanah air. Di balik angka-angka yang melangit tersebut, terdapat kekhawatiran mengenai meredupnya etos belajar mahasiswa yang seharusnya menjadi jiwa dari proses pendidikan tinggi itu sendiri. Banyak mahasiswa yang terjebak dalam labirin formalisme pendidikan, di mana mereka hanya berfokus pada cara mendapatkan nilai bagus tanpa peduli pada substansi ilmu. Kondisi ini diperparah dengan sistem pembelajaran yang terkadang lebih menekankan pada aspek kognitif tingkat rendah seperti menghafal dibandingkan menganalisis secara kritis. Akibatnya, esensi dari belajar sebagai proses pendewasaan berpikir menjadi hilang dan berganti menjadi sekadar upaya memenuhi prasyarat kelulusan administratif semata.
Kurangnya tantangan akademik yang berarti membuat mahasiswa cenderung merasa cepat puas dengan pencapaian yang mereka dapatkan di dalam kelas setiap semesternya. Ketika nilai tinggi menjadi sesuatu yang umum, gairah untuk mengeksplorasi literatur baru atau melakukan riset mandiri secara mendalam menjadi sangat menurun di kalangan pemuda. Etos kerja keras yang dahulu menjadi ciri khas mahasiswa pejuang kini mulai luntur dan digantikan oleh sikap pragmatis yang menginginkan hasil instan tanpa proses. Hal ini merupakan sinyal bahaya bagi masa depan inovasi bangsa karena kemajuan teknologi sangat bergantung pada ketajaman nalar para lulusan universitasnya. Jika tradisi intelektual ini terus melemah, maka perguruan tinggi hanya akan menjadi lembaga penyedia ijazah tanpa adanya transformasi pengetahuan yang signifikan bagi mahasiswa.
Formalisme dalam pendidikan juga sering kali memaksa dosen untuk mengikuti pola penilaian yang tidak mencerminkan realita kemampuan mahasiswa yang sebenarnya di lapangan. Ketakutan akan kritik mahasiswa atau tuntutan birokrasi kampus terkadang membuat objektivitas dalam memberikan evaluasi menjadi terpinggirkan demi kenyamanan bersama. Proses edukasi yang seharusnya penuh dengan dialektika dan kritik membangun justru berubah menjadi aktivitas rutin yang membosankan dan tidak menggugah rasa ingin tahu. Mahasiswa pun semakin jauh dari realitas sosial karena mereka terlalu sibuk memoles transkrip nilai agar terlihat sempurna di mata calon pemberi kerja. Padahal, dunia nyata membutuhkan individu yang memiliki daya tahan mental dan kreativitas yang tidak bisa diukur hanya dengan angka statis.
Dampak dari fenomena ini adalah lahirnya generasi yang mahir dalam mengerjakan ujian namun gagap saat harus menyelesaikan permasalahan nyata di tengah masyarakat luas. Kesenjangan antara teori yang dipelajari di kampus dengan praktik di lapangan kerja menjadi semakin lebar dan sulit untuk dijembatani kembali. Banyak lulusan yang merasa terkejut ketika mendapati bahwa nilai IPK tinggi mereka tidak memberikan dampak besar saat harus menghadapi tekanan kerja yang nyata. Pengalaman belajar yang sempit dan berorientasi pada nilai telah membatasi cakrawala berpikir mereka dalam melihat peluang serta tantangan di masa depan. Kita memerlukan perubahan paradigma dari pendidikan yang berpusat pada nilai menuju pendidikan yang berorientasi pada pengembangan karakter dan kompetensi yang utuh.
Sebagai upaya perbaikan, institusi pendidikan harus mulai menggalakkan kembali budaya literasi dan riset yang kuat di kalangan mahasiswa maupun tenaga pengajarnya. Penilaian harus dilakukan secara multidimensi dengan memberikan porsi yang lebih besar pada proyek lapangan, magang industri, serta pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa perlu disadarkan kembali bahwa nilai hanyalah dampak dari sebuah proses belajar yang sungguh-sungguh, bukan tujuan utama yang harus diraih dengan segala cara. Dengan menghidupkan kembali etos belajar yang jujur, maka perguruan tinggi akan kembali menjadi pusat keunggulan intelektual yang dihormati oleh semua kalangan. Hanya dengan cara inilah, kualitas pendidikan nasional dapat meningkat secara substansial dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan peradaban dunia.
###
Penulis : Indriani Dwi Febrianti