Fenomena "Krisis Membaca": Upaya Meningkatkan Minat Baca Anak
Di tengah gempuran konten video pendek dan permainan digital, minat membaca buku di kalangan siswa sekolah dasar dilaporkan mengalami penurunan yang signifikan. Fenomena yang sering disebut sebagai "krisis membaca" ini menjadi kekhawatiran serius karena kemampuan literasi adalah fondasi dari semua proses belajar. Siswa yang tidak gemar membaca cenderung kesulitan memahami soal cerita dalam matematika, menganalisis teks dalam pelajaran IPA, dan menyerap informasi secara mendalam.
Menghadapi tantangan ini, berbagai pihak mulai bergerak. Sekolah-sekolah menggalakkan program seperti "15 Menit Membaca Sebelum Belajar", mendirikan pojok baca yang nyaman di setiap kelas, dan mengadakan festival literasi yang mengundang penulis anak. Di tingkat komunitas, gerakan donasi buku dan perpustakaan keliling mencoba menjangkau anak-anak di daerah yang akses terhadap buku berkualitas masih minim.
Namun, upaya ini tidak akan maksimal tanpa peran serta orang tua di rumah. Para ahli menekankan bahwa membangun kebiasaan membaca harus dimulai dari lingkungan keluarga, misalnya dengan membacakan dongeng sebelum tidur atau menyediakan waktu khusus untuk membaca bersama. Pertarungan melawan distraksi digital ini membutuhkan kolaborasi sinergis antara sekolah, keluarga, dan komunitas untuk memastikan generasi masa depan tetap mencintai buku dan memiliki kemampuan literasi yang kuat.