Forecast Challenge: Kompetisi Prediksi Cuaca untuk Meningkatkan Kemampuan Analisis Data
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Mengubah pembelajaran menjadi kompetisi yang menyenangkan adalah strategi efektif untuk meningkatkan engagement siswa. Forecast Challenge adalah aktivitas outdoor learning dimana siswa belajar memprediksi cuaca esok hari berdasarkan observasi mereka sendiri, kemudian memverifikasi akurasi prediksi mereka. Aktivitas ini mengajarkan bahwa prediksi ilmiah bukan tebakan acak tetapi based on data dan pattern recognition, mengembangkan keterampilan analisis yang penting tidak hanya untuk sains tetapi juga untuk kehidupan sehari-hari.
Aktivitas dimulai dengan mengajarkan siswa indikator-indikator cuaca yang dapat mereka observasi langsung. Jenis awan adalah predictor terbaik: Cumulus putih mengindikasikan cuaca cerah, Cumulus yang berkembang menjadi Cumulonimbus mengindikasikan potensi hujan petir, Cirrus yang menipis mengindikasikan cuaca akan berubah dalam 24 jam. Arah angin juga penting: di Indonesia, angin dari laut biasanya membawa kelembaban dan hujan. Perilaku hewan juga bisa menjadi indikator: burung terbang rendah sebelum hujan karena tekanan udara turun. Siswa dibekali dengan “weather prediction checklist” yang membantu mereka melakukan observasi sistematis.
Setiap sore, siswa melakukan observasi outdoor selama 15-20 menit. Mereka mencatat semua indikator yang mereka amati: jenis awan, arah angin, kelembaban yang dirasakan, perilaku hewan atau tumbuhan, dan sensasi umum atmosfer. Berdasarkan data observasi ini, setiap siswa atau kelompok membuat prediksi untuk cuaca esok hari: akan cerah, berawan, hujan ringan, atau hujan lebat. Mereka juga harus menulis reasoning: “Saya memprediksi akan hujan besok karena hari ini langit penuh awan Cumulonimbus yang gelap dan angin bertiup kencang dari arah laut.” Proses ini mengajarkan pentingnya supporting evidence untuk setiap claim - prinsip fundamental dalam argumentation ilmiah.
Keesokan harinya, siswa memverifikasi prediksi mereka dengan observasi aktual. Mereka mencatat apakah prediksi mereka akurat, partially accurate, atau tidak akurat. Sistem poin dapat dibuat: 3 poin untuk prediksi completely accurate, 2 poin untuk partially accurate, 0 untuk tidak akurat. Scoreboard dipasang di kelas untuk tracking. Kompetisi ini tidak hanya individual tetapi juga kelompok, mendorong kolaborasi dan diskusi strategi prediksi. Siswa yang prediksinya akurat berbagi “rahasia” mereka: indikator apa yang paling mereka perhatikan, bagaimana mereka membuat keputusan.
Pembelajaran diperdalam dengan membandingkan prediksi siswa dengan prakiraan profesional dari BMKG. Siswa mengakses website atau aplikasi BMKG untuk melihat prakiraan resmi.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah