Forecasting the Future: Pendidikan Dasar Berbasis Cuaca sebagai Strategi Menumbuhkan Climate Literacy dan SDGs Awareness
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Literasi iklim sejak sekolah dasar menjadi strategi penting dalam menghadapi tantangan perubahan cuaca global yang semakin tidak menentu. Pembelajaran berbasis cuaca memungkinkan siswa mengenali dinamika lingkungan setempat dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Dengan pendekatan kontekstual, pendidikan ini membantu siswa memahami ancaman bencana alam dan tindakan mitigasi sederhana yang dapat dilakukan. Sebagai bagian dari SDGs, keterampilan ini mendukung pembangunan kesadaran lingkungan yang berbasis ilmiah dan berkelanjutan. Sekolah dapat mengintegrasikannya melalui pendekatan discovery learning atau project-based learning. Dengan demikian, siswa belajar memahami cuaca tidak hanya sebagai fenomena alam, tetapi juga sebagai indikator perubahan iklim masa depan.
Guru memiliki peran sentral dalam mengembangkan strategi pembelajaran cuaca yang sistematis dan mendorong eksplorasi. Aktivitas seperti diskusi kelompok tentang respon masyarakat terhadap cuaca ekstrem dapat menjadi sarana pembentukan empati dan pemahaman sosial. Penggunaan media interaktif seperti video prakiraan cuaca atau peta digital meningkatkan keterlibatan siswa dalam memahami kondisi lingkungan secara aktual. Penerapan refleksi harian juga dapat membantu siswa membandingkan prediksi cuaca dan kenyataan, sehingga keterampilan analisis makin terasah. Dengan cara ini, guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mengajak siswa menjadi peneliti kecil yang peka terhadap isu global. Pembelajaran semacam ini sejalan dengan paradigma pendidikan abad ke-21.
Meskipun memiliki potensi besar, implementasi literasi cuaca masih menghadapi kendala infrastruktur dan minimnya pelatihan guru. Tidak semua sekolah dasar memiliki akses terhadap teknologi informasi untuk memperoleh data cuaca secara akurat. Guru yang belum terbiasa dengan pendidikan berbasis projek juga sering merasa kesulitan merancang kegiatan yang sesuai karakteristik siswa. Terlebih lagi, konsentrasi pembelajaran masih didominasi persiapan ujian sehingga kegiatan eksploratif sering dianggap tidak prioritas. Hal ini menunjukkan perlunya reposisi kebijakan sekolah yang lebih fleksibel dan berbasis kebutuhan lingkungan lokal. Reformasi kurikulum menjadi penting agar pendidikan tidak hanya berfokus pada hasil akhir akademik, tetapi pada proses belajar yang bermakna.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan pendidikan berbasis cuaca. Sekolah dapat bermitra dengan instansi seperti BPBD atau komunitas lingkungan untuk menyelenggarakan program edukatif berbasis lapangan. Selain itu, kurikulum pembelajaran dapat diperkaya dengan kajian lokal mengenai dampak cuaca ekstrem terhadap pertanian atau aktivitas nelayan sebagai bagian dari kearifan lokal. Guru dapat mengajak siswa membuat rekomendasi kebijakan sederhana hasil pengamatan sebagai bentuk penguatan literasi kritis. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami fenomena, tetapi juga berkontribusi pada solusi nyata. Kolaborasi semacam itu menciptakan pembelajaran yang reflektif dan berorientasi masa depan.
Integrasi pendidikan cuaca sejak dini secara langsung berkontribusi pada pembangunan masyarakat adaptif terhadap perubahan iklim. Siswa belajar untuk tidak pasif terhadap fenomena alam, tetapi menjadi agen perubahan yang mampu memprediksi dan meresponnya dengan bijak. Kompetensi ini dapat menjadi fondasi pembentukan karakter generasi SD yang lebih siap menghadapi risiko dan mencintai lingkungan. Dengan pembelajaran yang relevan, terukur, dan inovatif, pendidikan dasar menjadi titik awal mitigasi perubahan iklim dan pencapaian SDGs. Oleh karena itu, cuaca bukan hanya bahan ajar, tetapi juga sumber inspirasi menuju implementasi pendidikan berkelanjutan. Dengan pendekatan yang tepat, sekolah dasar dapat menjadi pusat lahirnya generasi cerdas iklim.
Penulis: Putri Arina Hidayati
Dokumentasi: Google_University of California