Gerakan Numerasi Nasional dan Upaya Membebaskan Angka dari Ketakutan Kolektif
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Gerakan numerasi nasional diluncurkan tidak hanya sebagai kebijakan teknis, tetapi sebagai upaya membongkar ketakutan kolektif terhadap angka. Selama bertahun tahun, numerasi sering diasosiasikan dengan kecemasan dan kegagalan. Angka hadir sebagai momok yang menekan, bukan sebagai alat memahami dunia. Kondisi ini berdampak langsung pada capaian PISA yang belum menggembirakan. Negara menyadari bahwa persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan instan. Dibutuhkan perubahan cara pandang yang mendasar. Gerakan ini hadir sebagai ruang untuk memulihkan relasi manusia dengan angka. Numerasi ditempatkan sebagai bahasa logika yang membebaskan, bukan membatasi. Dari sinilah harapan untuk mendongkrak skor PISA mulai dirancang secara lebih manusiawi.
Numerasi yang dibangun melalui gerakan nasional ini menekankan pemaknaan. Angka tidak lagi berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan konteks kehidupan. Proses belajar diarahkan agar peserta didik mampu menafsirkan data dan membuat keputusan sederhana. Dengan pendekatan ini, numerasi menjadi relevan dan fungsional. Ketika angka terasa dekat dengan realitas, ketakutan perlahan berkurang. Rasa ingin tahu pun tumbuh secara alami.
Keterkaitan dengan PISA terlihat pada fokus kemampuan bernalar. PISA tidak menguji hafalan rumus, melainkan kemampuan menggunakan pengetahuan numerik dalam situasi nyata. Gerakan numerasi nasional mencoba menyelaraskan praktik pembelajaran dengan karakter tersebut. Soal dan aktivitas dirancang untuk memancing analisis. Peserta didik diajak berpikir, bukan sekadar menjawab. Pendekatan ini diyakini mampu meningkatkan performa secara berkelanjutan.
Selain pendekatan kognitif, gerakan ini juga menyentuh aspek emosional. Hubungan positif dengan angka perlu dibangun sejak dini. Lingkungan belajar yang tidak menghakimi menjadi prasyarat penting. Kesalahan diperlakukan sebagai bagian dari proses belajar. Dengan demikian, numerasi tidak lagi identik dengan tekanan. Perubahan iklim belajar ini menjadi fondasi penting bagi peningkatan kualitas.
Di sisi lain, gerakan numerasi nasional juga mendorong pemanfaatan data dalam kehidupan sosial. Kemampuan membaca informasi kuantitatif membuat individu lebih kritis. Keputusan tidak lagi didasarkan pada asumsi semata. Numerasi menjadi alat literasi publik. Dampaknya meluas hingga pada cara masyarakat memahami isu ekonomi, kesehatan, dan lingkungan.
Tantangan utama terletak pada keberlanjutan gerakan. Transformasi budaya membutuhkan waktu dan konsistensi. Jika numerasi kembali dipersempit pada target nilai, tujuan awal akan melenceng. Oleh karena itu, refleksi berkala sangat diperlukan. Gerakan ini harus terus dijaga agar tetap berpihak pada proses. Hanya dengan cara itu perubahan nyata dapat tercapai.
Gerakan numerasi nasional menawarkan harapan baru. Ia berupaya membebaskan angka dari stigma ketakutan. Dengan pendekatan yang lebih humanis, numerasi menjadi alat pemberdayaan. Skor PISA hanyalah salah satu indikator keberhasilan. Yang lebih penting adalah lahirnya generasi yang mampu bernalar secara kritis. Dari sinilah masa depan Indonesia dihitung ulang dengan cara yang lebih bermakna.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah