GNN di Daerah 3T: Memutus Rantai Ketertinggalan Skor PISA
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pemerataan kualitas pendidikan dasar menjadi fokus paling krusial dalam Gerakan Numerasi Nasional (GNN) 2026, terutama bagi wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Pemerintah menyadari bahwa rendahnya rerata skor PISA nasional selama ini sangat dipengaruhi oleh kesenjangan mutu yang lebar antara Jawa dan luar Jawa. Melalui GNN, distribusi materi numerasi tidak lagi dilakukan secara seragam, melainkan dengan pendekatan afirmatif yang mempertimbangkan keterbatasan infrastruktur dan akses informasi di daerah terpencil. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa setiap anak di pelosok Nusantara memiliki hak yang sama untuk cerdas secara logika dan matematika.
Salah satu inovasi utama dalam gerakan ini di daerah 3T adalah pengiriman "Kit Numerasi Portabel" yang dirancang khusus untuk tetap efektif digunakan tanpa ketergantungan pada listrik maupun internet. Kit ini berisi alat peraga manipulatif dari bahan ramah lingkungan yang membantu siswa memahami konsep angka melalui permainan fisik. Para guru di daerah 3T mendapatkan pelatihan intensif mengenai bagaimana mengadaptasi kurikulum numerasi nasional ke dalam konteks kearifan lokal daerah mereka. Analisis mendalam menunjukkan bahwa ketika matematika diajarkan menggunakan konteks lingkungan sekitar, seperti menghitung hasil laut atau luas perkebunan, siswa jauh lebih cepat menyerap konsep nalar yang diajarkan.
Tantangan utama di daerah 3T adalah keterbatasan jumlah guru yang memiliki latar belakang pendidikan linier dalam bidang matematika dasar. GNN menjawab masalah ini dengan menyediakan modul pembelajaran mandiri yang dilengkapi dengan panduan audio-visual sederhana bagi para pendidik di sana. Selain itu, pemerintah juga memberikan tunjangan khusus berbasis kinerja bagi guru-guru yang berhasil meningkatkan skor nalar siswanya berdasarkan asesmen standar nasional. Insentif ini diharapkan dapat memicu semangat kompetisi positif dan meningkatkan dedikasi para guru dalam menjaga mutu pembelajaran di tengah keterbatasan fasilitas.
Mahasiswa pascasarjana yang bertugas di daerah 3T melalui program pendampingan juga melakukan riset mengenai hambatan sosiokultural yang memengaruhi kemampuan belajar siswa. Temuan mereka seringkali mengejutkan, seperti adanya pola pikir tradisional yang menganggap matematika tidak penting bagi kehidupan praktis di desa. Melalui dialog yang persuasif, para relawan akademisi ini berupaya mengubah persepsi tersebut dengan menunjukkan bahwa numerasi adalah kunci untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga melalui pengelolaan sumber daya yang lebih logis. Penjagaan mutu di daerah 3T dengan demikian mencakup transformasi pola pikir masyarakat secara luas.
Selain itu, GNN di daerah terpencil juga memanfaatkan jaringan stasiun radio lokal untuk menyiarkan program "Matematika Udara" setiap sore hari. Program ini dirancang interaktif agar siswa dapat belajar bersama keluarga di rumah meskipun akses internet belum menjangkau wilayah mereka. Langkah kreatif ini membuktikan bahwa penjagaan mutu pendidikan tidak harus selalu bergantung pada teknologi tinggi, asalkan ada keinginan kuat untuk menjangkau setiap anak. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa melalui siaran radio ini, minat belajar siswa di daerah 3T meningkat pesat karena materi disajikan dalam bentuk cerita dan kuis yang menarik.
Evaluasi terhadap efektivitas GNN di wilayah 3T dilakukan secara berkala melalui kunjungan tim auditor mutu independen untuk memastikan standar yang diberikan tetap setara dengan sekolah di kota besar. Pemerintah berkomitmen bahwa tidak ada pengurangan standar mutu kognitif meskipun berada di daerah sulit; yang disesuaikan hanyalah cara penyampaiannya. Sudut pandang ini sangat penting untuk menjamin bahwa lulusan SD dari daerah 3T memiliki daya saing yang sama saat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Keberhasilan GNN di pelosok akan menjadi determinan penting bagi kenaikan skor PISA Indonesia secara keseluruhan.
Memutus rantai ketertinggalan di daerah 3T melalui numerasi adalah investasi jangka panjang yang akan memperkuat fondasi kebangsaan kita. Jika anak-anak di perbatasan mampu berpikir logis dan kritis, mereka akan menjadi penjaga kedaulatan bangsa yang tangguh di masa depan. Gerakan Numerasi Nasional ini adalah pesan kuat bahwa negara hadir untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa kecuali. Dengan pemerataan mutu yang konsisten, Indonesia sedang menyiapkan diri untuk melonjak dalam peringkat pendidikan dunia melalui kekuatan nalar yang merata dari Sabang sampai Merauke.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah