Google Translate Bantu Siswa SD Pelajari Kosakata Iklim dalam Bahasa Inggris
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Sejumlah sekolah dasar mulai memanfaatkan Google Translate sebagai alat bantu pembelajaran dalam memperkenalkan kosakata terkait cuaca dan perubahan iklim kepada siswa kelas rendah. Guru menggunakan fitur penerjemahan instan untuk menunjukkan bagaimana satu kata dapat memiliki makna berbeda tergantung konteksnya. Misalnya, kata “storm,” “drizzle,” atau “heatwave” tidak hanya diterjemahkan, tetapi juga dijelaskan melalui contoh yang lebih relevan dengan kehidupan anak sehari-hari. Integrasi teknologi ini membantu anak memahami gejala alam sembari mengembangkan kemampuan literasi Bahasa Inggris mereka.
Penggunaan Google Translate di kelas tidak dilakukan tanpa pendampingan. Guru tetap mengarahkan siswa untuk mengecek kembali makna dan memastikan penerjemahan tidak diambil mentah-mentah. Melalui pendekatan ini, siswa diajak mengenali bahwa teknologi adalah alat bantu, bukan sumber kebenaran tunggal. Anak-anak juga belajar untuk membandingkan hasil terjemahan dengan gambar, video, dan pengalaman langsung, misalnya saat cuaca hujan, mendung, atau panas terik. Dengan demikian, kemampuan berpikir kritis mereka berkembang bersama pemahaman tentang fenomena cuaca.
Kegiatan belajar ini juga berkontribusi pada pencapaian SDGs, khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 13 terkait aksi terhadap perubahan iklim. Anak-anak tidak hanya mempelajari bahasa, tetapi secara bertahap mulai memahami bahwa cuaca ekstrem semakin sering terjadi akibat perubahan iklim global. Dengan mengaitkan pembelajaran bahasa dan lingkungan, guru berusaha menanamkan kesadaran ekologis sejak dini.
Guru memberikan tugas kelompok sederhana seperti membuat “kamus mini cuaca” yang berisi daftar istilah iklim dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Siswa menggunakan Google Translate untuk mencari terjemahan, lalu mendiskusikan bersama apakah terjemahan tersebut sudah tepat atau perlu diperbaiki. Aktivitas ini menumbuhkan kerja sama, literasi digital, serta kemampuan komunikasi. Anak terlatih menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dan tidak bergantung sepenuhnya pada AI untuk memahami informasi.
Dengan pendekatan kreatif ini, Google Translate tidak lagi hanya dianggap sebagai aplikasi penerjemah, tetapi juga sarana pedagogis yang memperkaya pengalaman belajar siswa SD. Melalui kombinasi teknologi, literasi bahasa, dan pendidikan lingkungan, sekolah berhasil mengembangkan metode pembelajaran yang lebih relevan dengan tantangan global saat ini.
# # #
Penulis: Salsa Billa Aulia