Google Translate Menembus Batas Bahasa: Mengurangi Ketimpangan Akses Informasi Global
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Akses informasi berkualitas menjadi salah satu indikator penting dalam SDGs tujuan ke-10, yaitu Berkurangnya Kesenjangan. Namun, banyak sumber belajar global ditulis dalam bahasa asing yang sulit dipahami siswa SD. Di sinilah Google Translate berperan sebagai alat yang memungkinkan siswa menembus batas bahasa dan mengakses pengetahuan dari berbagai belahan dunia. Dengan dukungan guru, teknologi ini dapat digunakan secara efektif dalam pendidikan dasar.
Guru dapat memanfaatkan Google Translate untuk menerjemahkan artikel sains anak, cerita inspiratif, maupun teks budaya dari bahasa asing ke Bahasa Indonesia. Dengan demikian, materi pelajaran tidak terbatas pada buku teks sekolah saja. Siswa dapat mengenal cerita dari Afrika, Jepang, atau Eropa, sehingga wawasan mereka menjadi lebih luas. Proses ini memperkenalkan mereka pada keberagaman budaya dan sudut pandang yang berbeda
Di sisi lain, penggunaan Google Translate juga membantu siswa memahami struktur bahasa. Mereka dapat melihat bagaimana kalimat berubah ketika diterjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lain. Guru dapat memanfaatkan perbedaan ini untuk menjelaskan tata bahasa dasar dan memperkenalkan siswa pada pola-pola linguistik yang menarik. Pembelajaran seperti ini membuat anak lebih terbuka terhadap bahasa asing dan tidak merasa takut untuk mempelajarinya.
Namun demikian, guru perlu menanamkan pemahaman bahwa Google Translate tidak selalu menghasilkan terjemahan yang sempurna. Ada kalanya kalimat yang diterjemahkan tidak sesuai konteks atau kurang tepat maknanya. Di sinilah pembelajaran kritis dimulai. Guru dapat mengajak siswa memperbaiki terjemahan secara bersama-sama, menganalisis kesalahan yang muncul, dan mendiskusikan alternatif yang lebih tepat.
Melalui penggunaan Google Translate secara terarah, sekolah dasar dapat memperluas akses informasi bagi semua siswa. Teknologi ini membantu mengurangi kesenjangan antara mereka yang memiliki akses sumber belajar internasional dan yang tidak. Anak-anak belajar bahwa teknologi dapat membuka pintu-pintu baru bagi pengetahuan, menjadikan mereka warga dunia yang lebih berpengetahuan dan toleran terhadap keragaman.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia