Guru Matematika Menghadapi Tuntutan Literasi Global di Atas Kurikulum yang Rigid
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Para pengajar matematika di tingkat sekolah dasar dan menengah saat ini tengah menghadapi dilema profesional yang sangat kompleks dan menantang. Di satu sisi, mereka dituntut untuk mampu meningkatkan kemampuan literasi global siswa agar kompetitif dalam ajang internasional seperti PISA. Namun, di sisi lain, mereka masih harus beroperasi di bawah payung kurikulum yang sering kali dianggap terlalu rigid dan sarat akan konten administratif. Tekanan untuk menyelesaikan tumpukan materi dalam waktu terbatas membuat guru sulit untuk berinovasi menciptakan pembelajaran yang bermakna dan eksploratif. Akibatnya, banyak guru yang akhirnya memilih jalur aman dengan kembali ke metode konvensional demi mengejar ketercapaian target kurikulum nasional. Situasi ini menciptakan ketegangan antara idealisme pendidikan yang menekankan pada kualitas nalar dan realitas sistem yang menuntut kuantitas nilai. Dilema ini jika tidak segera dicarikan solusinya akan berdampak pada kelelahan profesional dan rendahnya efektivitas pengajaran di dalam kelas.
Tuntutan literasi global mengharuskan guru untuk tidak hanya menguasai materi tetapi juga memiliki kemampuan merancang skenario pembelajaran berbasis masalah yang otentik. Guru diharapkan mampu menjadi desainer instruksional yang kreatif dalam mengaitkan konsep matematika dengan berbagai isu kontemporer di dunia. Namun, kenyataannya banyak guru yang merasa belum memiliki kompetensi yang memadai dalam menyusun soal-soal setara PISA yang berkualitas tinggi. Pelatihan-pelatihan yang disediakan sering kali bersifat umum dan kurang memberikan panduan praktis mengenai cara mengintegrasikan literasi dalam struktur kurikulum yang kaku. Selain itu, keterbatasan sarana penunjang di sekolah juga menambah daftar panjang hambatan yang harus dihadapi oleh para pendidik di lapangan. Kesenjangan antara harapan global dan kenyataan lokal ini menciptakan frustrasi tersendiri bagi guru yang ingin melakukan perubahan nyata. Diperlukan kebijakan pendukung yang memberikan fleksibilitas bagi guru untuk menyesuaikan materi dengan kebutuhan pengembangan literasi siswa secara mandiri.
Karakteristik kurikulum yang rigid sering kali membatasi ruang gerak guru dalam melakukan eksperimen pedagogis yang mungkin memerlukan waktu lebih lama. Pembelajaran literasi matematika sejatinya membutuhkan waktu untuk berdiskusi, berkolaborasi, dan merefleksikan proses pemecahan masalah secara mendalam dan menyeluruh. Namun, jadwal pelajaran yang padat dan sistem ujian yang masih berorientasi pada hafalan membuat aktivitas semacam itu dianggap sebagai pemborosan waktu. Guru sering kali terjepit antara keinginan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa dan tuntutan untuk memastikan siswa lulus ujian standar sekolah. Dilema ini menunjukkan adanya ketidakselarasan antara tujuan pendidikan nasional yang luhur dan instrumen evaluasi yang masih bersifat tradisional. Tanpa adanya sinkronisasi antara kurikulum, proses belajar, dan sistem asesmen, maka tekanan literasi global hanya akan menjadi beban moral bagi guru. Reformasi kurikulum harus benar-benar menyentuh aspek penyederhanaan konten agar tersedia ruang yang cukup bagi pengembangan kompetensi esensial.
Selain itu, faktor lingkungan kerja dan dukungan dari pimpinan sekolah juga memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan guru mengatasi dilema ini. Sekolah yang memiliki budaya inovasi yang kuat cenderung memberikan kebebasan bagi gurunya untuk mencoba pendekatan baru yang lebih relevan dengan standar PISA. Namun, pada sekolah yang masih bersifat birokratis dan konservatif, inovasi sering kali dipandang sebagai gangguan terhadap keteraturan administratif yang ada. Guru membutuhkan komunitas belajar yang solid sebagai wadah untuk saling berbagi praktik baik dan memecahkan tantangan pembelajaran secara bersama-sama. Kolaborasi antar-guru matematika dapat menjadi kekuatan besar untuk mendiskonstruksi kekakuan kurikulum melalui integrasi materi yang lebih cerdas dan efisien. Perlu ada apresiasi yang nyata terhadap guru yang berani keluar dari zona nyaman demi meningkatkan kualitas literasi siswanya. Dengan dukungan yang tepat, dilema yang dirasakan dapat diubah menjadi motivasi untuk terus tumbuh dan berkembang secara profesional.
Sebagai penutup, mengatasi dilema guru matematika adalah kunci utama dalam upaya memperbaiki posisi literasi pendidikan kita di mata dunia. Kita tidak bisa mengharapkan perubahan besar jika para aktor utamanya di kelas masih merasa tertekan dan tidak memiliki ruang kreatif yang cukup. Kurikulum harus dipandang sebagai kerangka kerja yang fleksibel, bukan sebagai dogma yang menghambat perkembangan nalar dan kreativitas guru. Penyelarasan antara kebijakan makro dan praktik mikro harus dilakukan dengan melibatkan suara para guru yang berada di garda terdepan pendidikan. Hanya dengan memberikan kepercayaan dan dukungan penuh kepada guru, tuntutan literasi global dapat diwujudkan dalam setiap aktivitas pembelajaran di kelas. Masa depan literasi matematika Indonesia sangat bergantung pada bagaimana kita memberdayakan para pendidik untuk melewati dilema ini dengan bijak. Mari kita ciptakan iklim pendidikan yang menghargai keberanian berinovasi demi melahirkan generasi yang cerdas dan kompetitif secara global.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.