Guru Pembimbing Khusus: Jantung Inklusi yang Terlupakan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Mengapa ribuan anak berkebutuhan khusus di sekolah dasar masih mengalami stagnasi prestasi meskipun telah terdaftar di sekolah inklusi? Pertanyaan besar ini membawa kita pada realita krisis Guru Pembimbing Khusus (GPK) yang kian mencemaskan di hampir seluruh wilayah Indonesia pada akhir tahun 2024. Tanpa kehadiran sosok ahli ini, keberadaan PDBK di kelas reguler sering kali menjadi kehadiran yang terisolasi karena guru kelas reguler tidak dibekali kompetensi mendalam untuk melakukan intervensi edukasi yang sesuai dengan profil disabilitas siswa yang sangat beragam.
Secara pedagogis, GPK adalah "jantung" yang memompa aliran pengetahuan melalui modifikasi kurikulum dan penyusunan Program Pembelajaran Individual (PPI). Ketika seorang anak dengan ADHD atau autisme tidak mendapatkan bimbingan khusus, tingkat stres kognitifnya meningkat karena tuntutan materi yang tidak sinkron dengan cara otaknya memproses informasi. Data psikologi pendidikan menunjukkan bahwa keterlibatan GPK secara intensif mampu menurunkan tingkat tantrum dan meningkatkan fokus belajar siswa secara signifikan karena terciptanya ikatan emosional dan teknis yang kuat antara guru dan murid.
Analisis terhadap beban kerja menunjukkan bahwa satu GPK sering kali dipaksa menangani lebih dari sepuluh siswa dengan jenis hambatan yang berbeda, yang jelas merupakan beban yang tidak proporsional. Kondisi ini membuat peran GPK bergeser dari pendidik spesialis menjadi sekadar "pengawas" agar anak tidak mengganggu jalannya kelas reguler. Padahal, tugas utama mereka adalah melakukan asesmen berkelanjutan dan memastikan setiap perkembangan kecil siswa terdokumentasi dengan baik sebagai dasar pengambilan kebijakan instruksional yang lebih efektif.
Peran guru kelas reguler dalam ekosistem ini juga mengalami pergeseran menjadi mitra kolaboratif yang harus bersedia belajar dari GPK. Inklusi yang sukses tercipta ketika guru kelas dan GPK duduk bersama merancang skenario pembelajaran yang bisa mengakomodasi seluruh siswa tanpa kecuali. Guru kelas yang membiasakan diri berkonsultasi mengenai strategi penanganan siswa inklusi secara langsung sedang membangun standar profesionalisme baru yang lebih inklusif. Sinkronisasi ini memastikan bahwa kenyamanan psikologis anak terjaga karena semua orang dewasa di sekitarnya memiliki frekuensi yang sama.
Inovasi dalam manajemen guru kini mulai memanfaatkan platform digital untuk memetakan distribusi GPK secara real-time guna mengatasi ketimpangan antar-wilayah. Sistem mentor digital di mana GPK senior memberikan pelatihan jarak jauh kepada guru-guru di daerah terpencil menjadi solusi cerdas di tengah keterbatasan jumlah lulusan Pendidikan Luar Biasa (PLB). Paradigma ini mengubah pola pikir bahwa pendampingan hanya bisa dilakukan secara fisik, melainkan bisa berbasis pengetahuan kolektif yang disalurkan melalui bantuan teknologi komunikasi modern.
Sinergi dengan perguruan tinggi LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) sangat diperlukan untuk menyesuaikan kurikulum calon guru SD agar memiliki kompetensi dasar pendidikan inklusi. Sekolah-sekolah dasar inklusi harus menjadi laboratorium lapangan di mana mahasiswa tingkat akhir terlibat langsung dalam pendampingan PDBK. Kolaborasi ini memastikan bahwa regenerasi GPK tidak terputus dan sekolah selalu mendapatkan pasokan tenaga segar yang memiliki pemahaman teoritis terbaru mengenai metode pembelajaran inklusif yang inovatif.
Sebagai penutup, pemenuhan kebutuhan Guru Pembimbing Khusus adalah kunci utama yang menjamin keberhasilan masa depan anak berkebutuhan khusus di Indonesia. Kita harus menyadari bahwa menciptakan sekolah inklusi yang hebat membutuhkan investasi pada manusia, bukan sekadar pemenuhan kuota administratif. Sekolah dasar harus didukung oleh tenaga profesional yang mampu merawat potensi anak dengan penuh keahlian dan kasih sayang. Mari kita jadikan pemenuhan GPK sebagai prioritas nasional demi melahirkan generasi emas yang tangguh secara mental dan mendapatkan hak belajarnya secara utuh.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah