Guru sebagai Peneliti: Pengembangan Kompetensi Melalui PTK Digital
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di tengah disrupsi teknologi, guru SD tidak lagi cukup hanya menjadi pelaksana kurikulum, melainkan harus mampu menjadi peneliti di kelasnya sendiri melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berbasis digital. Peningkatan kompetensi sebagai guru-peneliti (teacher-researcher) mulai digalakkan sejak tahun 2024 untuk mendorong pendidik mencari solusi inovatif atas masalah belajar spesifik yang muncul akibat penggunaan gawai di sekolah. Langkah ini bertujuan agar setiap hambatan belajar siswa dapat segera diatasi melalui siklus perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi yang sistematis dan berbasis data digital.
Secara teoritis, guru yang memiliki jiwa peneliti memiliki keamanan psikologis yang lebih kuat dalam menghadapi ketidakpastian teknologi karena mereka melihat masalah sebagai peluang inovasi. Ketika seorang guru secara aktif melakukan riset kecil mengenai efektivitas aplikasi matematika di kelasnya, tingkat kepercayaan dirinya meningkat karena tindakannya didasari oleh bukti nyata, bukan sekadar intuisi. Data psikologi pendidikan menunjukkan bahwa keterlibatan dalam PTK meningkatkan kepuasan kerja guru secara signifikan. Inilah fondasi utama yang memungkinkan peningkatan kualitas instruksional terjadi secara organik dari dalam ruang-ruang kelas sekolah dasar kita sendiri.
Analisis terhadap perilaku profesional menunjukkan bahwa budaya meneliti bertindak sebagai "jangkar" pemecahan masalah yang memberikan struktur bagi perbaikan berkelanjutan. Rutinitas mencatat observasi perilaku siswa di platform digital dan menganalisis pola kesalahan belajar melatih kontrol diri guru untuk tidak terburu-buru memberikan solusi tanpa data yang kuat. Pembiasaan ini melahirkan kesepakatan nilai baru bahwa setiap tindakan pedagogis harus memiliki dasar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Sekolah dasar berfungsi sebagai laboratorium kemanusiaan di mana guru belajar bahwa kenyamanan mengajar mereka sangat bergantung pada kemandirian intelektual mereka dalam memecahkan masalah.
Peran dosen pendamping dari program pascasarjana (S2 Dikdas) dalam memfasilitasi guru peneliti sangat krusial sebagai jembatan teori dan praktik. Akademisi yang membiasakan diri mendengarkan tantangan nyata guru di lapangan sambil memberikan bimbingan metodologis sedang mengajarkan standar profesionalisme yang beradab dan saling menghargai. Keteladanan ini merupakan metode pedagogi yang ampuh untuk mendekatkan dunia kampus dengan realitas sekolah dasar di era disrupsi. Lingkungan yang nyaman tercipta ketika guru melihat adanya sinkronisasi antara tuntutan tugas akhir studi dan manfaat praktis yang mereka rasakan langsung dalam perbaikan kelas mereka.
Inovasi dalam PTK digital juga mulai melibatkan penggunaan perangkat lunak pengolah data kualitatif yang memudahkan guru dalam mengorganisir hasil observasi kelas. Hal ini mengubah paradigma penelitian kelas dari yang semula dianggap rumit dan menyita waktu menjadi lebih efisien dan menyenangkan untuk dilakukan sebagai bagian dari rutinitas mengajar. Pengakuan formal atas karya ilmiah guru yang dipublikasikan dalam jurnal pendidikan dasar memberikan penguatan positif bagi pembentukan identitas guru yang cendekia. Sistem ini memastikan bahwa inovasi di sekolah bukan hasil dari arahan top-down, melainkan hasil dari penemuan autentik di tingkat tapak.
Sinergi dengan dinas pendidikan menjadi kunci keberlanjutan budaya meneliti agar hasil riset guru dapat didiseminasikan secara lebih luas untuk menginspirasi rekan sejawat lainnya. Sekolah kini aktif mengadakan forum "Simposium Inovasi Guru" tingkat daerah sebagai wadah bagi guru untuk mempresentasikan hasil temuan mereka dalam menangani disrupsi teknologi. Dialog rutin antar-sekolah mengenai hasil riset tindakan kelas memastikan bahwa proses penyebaran praktik baik berlangsung secara sistematis. Tanpa dukungan sistem diseminasi yang baik, hasil penelitian guru hanya akan menjadi tumpukan laporan yang gagal memberikan dampak bagi kemajuan pendidikan dasar secara permanen.
Sebagai penutup, penguasaan kompetensi peneliti bagi guru adalah kunci utama yang membuka pintu bagi kemandirian inovasi di tengah disrupsi teknologi bagi masa depan pendidikan Indonesia. Kita harus menyadari bahwa menciptakan sekolah yang hebat memerlukan ketajaman berpikir ilmiah dari para gurunya melalui kebiasaan berefleksi secara sistematis. Sekolah dasar harus menjadi oase intelektual, di mana setiap masalah belajar dijawab dengan solusi yang berbasis data dan riset mendalam. Mari kita jadikan budaya meneliti sebagai denyut nadi profesi guru kita, demi melahirkan generasi emas yang dididik oleh para arsitek pembelajaran yang benar-benar cerdas dan reflektif.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah