Hasil TKA 2025 dan PISA Saling Menguatkan, Pendidikan Indonesia Harus Segera Bertindak
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Data Terakhir Kemendikbudristek menunjukkan bahwa skor rata-rata peserta Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 di seluruh Indonesia berada di bawah ambang batas yang ditetapkan untuk keterampilan literasi, numerasi, dan pemecahan masalah. Secara spesifik, lebih dari 60% peserta mengalami kesulitan dalam memahami teks kompleks dan menerapkan konsep matematika dalam konteks kehidupan sehari-hari. Kondisi ini sejalan dengan temuan terbaru dari Program for International Student Assessment (PISA), yang menempatkan Indonesia pada peringkat bawah dalam perbandingan internasional selama tiga siklus berturut-turut.
Kedua hasil evaluasi ini menunjukkan pola yang konsisten terkait dengan kualitas pembelajaran di tingkat dasar dan menengah. Di TKA 2025, lemahnya pemahaman konseptual siswa tercermin dari jawaban yang lebih banyak berbasis hafalan daripada pemahaman mendalam. Sementara itu, PISA mengungkapkan bahwa siswa Indonesia masih kurang mampu menghubungkan pengetahuan akademik dengan tantangan dunia nyata, seperti analisis data ekonomi lokal atau pemecahan masalah lingkungan sekitar.
Pakar pendidikan dari Universitas Indonesia menjelaskan bahwa keselarasan temuan antara TKA dan PISA bukan kebetulan. Kedua asesmen tersebut mengukur kemampuan inti yang seharusnya dikuasai siswa setelah menjalani pendidikan formal bertahun-tahun. Perbedaan utama hanya terletak pada cakupan—TKA fokus pada kurikulum nasional, sedangkan PISA mengukur kesiapan siswa menghadapi masyarakat abad ke-21 secara global.
Pemerintah telah mengakui kondisi ini dan menyatakan akan segera mengeluarkan paket kebijakan baru. Beberapa poin yang akan menjadi fokus antara lain peningkatan kualitas guru melalui pelatihan berkelanjutan, penyempurnaan kurikulum agar lebih relevan dengan kebutuhan zaman, dan peningkatan akses terhadap sarana prasarana pembelajaran yang memadai di daerah-daerah terpencil.
Peran semua pihak tidak bisa diabaikan dalam menangani masalah ini. Selain pemerintah, sekolah perlu meningkatkan manajemen pembelajaran dan kolaborasi dengan orang tua. Masyarakat juga diharapkan dapat memberikan dukungan positif dan mendorong budaya literasi serta kreativitas di lingkungan sekitar. Tanpa sinergi yang kuat, upaya perbaikan kualitas pendidikan akan sulit mencapai hasil yang optimal.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah