Hilangnya Kompas Moral: Saat Kurikulum Melepas Siswa ke Rimba Algoritma
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di sebuah
sekolah dasar di pinggiran daerah administratif, seorang guru mengeluh tentang
perilaku siswanya yang meniru tren berbahaya dari media sosial, sebuah fenomena
yang kini menjadi pemandangan umum secara nasional. Banyak pengamat pendidikan
sepakat bahwa menyalahkan algoritma penyedia platform adalah argumen yang
dangkal, karena akar masalah sebenarnya terletak pada kegagalan kurikulum dalam
menyediakan "kompas moral" digital bagi siswa. Tanpa panduan etika
yang terintegrasi di sekolah, siswa SD kehilangan arah dalam membedakan mana
konten yang edukatif dan mana yang destruktif.
Kurikulum nasional saat
ini dinilai masih memperlakukan literasi digital sebatas pengenalan perangkat
keras atau aplikasi perkantoran sederhana. Padahal, tantangan nyata bagi anak
SD saat ini adalah menghadapi manipulasi psikologis dari algoritma yang dirancang
untuk menarik perhatian secara adiktif. Pendidikan kita gagal memberikan
pemahaman tentang bagaimana ekonomi perhatian (attention economy)
bekerja dan bagaimana anak bisa tetap berdaulat atas waktu dan pikiran mereka.
Dampaknya, anak-anak
tumbuh dengan kepekaan sosial yang tumpul karena interaksi digital mereka tidak
dibarengi dengan pemahaman empati siber. Kurikulum harusnya menyertakan materi
tentang perundungan siber (cyberbullying) dan dampaknya secara mendalam,
setara dengan pendidikan karakter konvensional. Literasi digital bukan hanya
soal teknis, melainkan soal kemanusiaan di ruang virtual.
Upaya digitalisasi
pendidikan yang selama ini digaungkan masih sering kali bersifat permukaan,
seperti pemberian tablet tanpa diikuti kurikulum literasi yang memadai. Alat
tanpa ilmu adalah bencana; memberikan gawai kepada anak tanpa pendidikan
literasi digital sama saja dengan memberikan kunci mobil kepada seseorang yang
belum belajar mengemudi. Kita perlu memastikan bahwa "pembangunan
fisik" teknologi diikuti oleh "pembangunan jiwa" digital siswa.
Sistem pendidikan kita
harus segera melakukan kalibrasi ulang agar mampu menghasilkan generasi yang
cerdas digital. Literasi digital harus diposisikan sebagai keterampilan
bertahan hidup di masa depan. Berhenti mencari kambing hitam di luar sana, dan
mari kita mulai melakukan audit terhadap apa yang sebenarnya kita ajarkan di
dalam ruang kelas kita.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah