Ilusi Deretan Angka Sempurna dan Ancaman Devaluasi Kualitas Lulusan Perguruan Tinggi di Dunia Kerja
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Fenomena inflasi nilai yang kian merebak di lingkungan perguruan tinggi telah menciptakan sebuah tabir ilusi yang mengaburkan hakikat prestasi akademik yang sesungguhnya. Standar kelulusan yang dahulu dianggap sebagai tolok ukur ketat kini seolah mengalami pergeseran makna menjadi sekadar pemenuhan administratif yang memanjakan mahasiswa dengan deretan angka tinggi. Banyak pihak mulai mempertanyakan apakah indeks prestasi tersebut benar-benar mencerminkan kapasitas intelektual atau sekadar hasil dari kelonggaran sistem evaluasi yang terjadi secara sistemik. Ketidakseimbangan ini menciptakan keresahan mendalam bagi dunia pendidikan karena nilai yang tinggi tidak lagi selaras dengan kedalaman pemahaman materi. Jika tren ini terus dibiarkan tanpa adanya intervensi kebijakan yang tegas, maka marwah pendidikan tinggi akan berada di titik nadir yang mengkhawatirkan karena kehilangan fungsi filtrasinya.
Paradoks yang muncul kemudian adalah hadirnya lulusan dengan transkrip nilai luar biasa namun seringkali gagap saat dihadapkan pada tantangan nyata di lapangan pekerjaan. Perusahaan dan industri kini mulai kehilangan kepercayaan terhadap indikator kuantitatif berupa IPK karena dianggap tidak lagi mampu membedakan antara talenta yang unggul dan mereka yang sekadar mengikuti arus. Kondisi ini memaksa dunia kerja untuk menerapkan proses seleksi tambahan yang jauh lebih rumit guna memverifikasi kompetensi yang seharusnya sudah tuntas di level universitas. Akibatnya, gelar sarjana maupun magister mengalami devaluasi nilai jual karena dianggap tidak lagi menjamin kepemilikan keahlian praktis yang mumpuni bagi penggunanya. Hal ini menjadi peringatan keras bagi institusi pendidikan untuk segera membenahi metode penilaian agar tetap objektif, kompetitif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Ketidaksesuaian antara angka di atas kertas dan kemampuan praktis ini berakar pada budaya akademik yang cenderung mengedepankan formalisme dibandingkan substansi pembelajaran yang mendalam. Mahasiswa terjebak dalam perlombaan mengejar nilai tanpa benar-benar meresapi filosofi ilmu pengetahuan yang mereka pelajari di dalam ruang kelas secara komprehensif. Orientasi jangka pendek ini mematikan daya kritis serta semangat eksplorasi yang menjadi fondasi utama seorang intelektual dalam memecahkan masalah kompleks di masyarakat. Pengajar pun terkadang merasa terbebani oleh ekspektasi institusional untuk memberikan nilai tinggi demi menjaga akreditasi atau citra lembaga di mata publik secara instan. Budaya pembiaran ini lambat laun akan merusak ekosistem pendidikan dan menghasilkan generasi yang hanya terampil secara administratif namun sangat rapuh secara fundamental.
Dampak jangka panjang dari inflasi nilai ini adalah terciptanya standar semu yang menyesatkan calon tenaga kerja dalam menilai potensi diri mereka sendiri sebelum terjun ke masyarakat. Mereka merasa telah siap menghadapi dunia luar karena didorong oleh angka-angka fantastis yang mereka terima selama masa studi di perguruan tinggi tanpa tantangan berarti. Namun, saat realita menuntut inovasi dan ketahanan mental dalam menyelesaikan pekerjaan, banyak lulusan yang justru mengalami kegagalan akibat kurangnya bekal kompetensi yang solid. Penurunan kualitas ini secara kolektif akan menghambat produktivitas nasional dan daya saing bangsa di kancah internasional yang semakin kompetitif dan menuntut pembuktian nyata. Pendidikan seharusnya menjadi jembatan menuju keahlian, bukan sekadar pabrik penghasil ijazah dengan nilai yang tidak memiliki korelasi kuat dengan kualitas kepribadian.
Oleh karena itu, diperlukan sebuah langkah restorasi besar dalam sistem evaluasi akademik untuk mengembalikan integritas serta objektivitas penilaian di setiap jenjang pendidikan tinggi. Perguruan tinggi harus berani menetapkan standar kelulusan yang jujur meski hal tersebut berarti tidak semua mahasiswa akan mendapatkan predikat pujian secara instan. Penilaian yang berbasis pada proyek nyata dan kemampuan pemecahan masalah harus lebih dikedepankan daripada sekadar ujian hafalan yang sangat mudah dimanipulasi oleh siapapun. Dengan mengembalikan nilai pada fungsi aslinya sebagai cermin kompetensi, kita dapat memastikan bahwa lulusan masa depan adalah pribadi yang tangguh secara intelektual dan cakap secara praktis. Hanya melalui keberanian untuk bersikap objektif inilah, kepercayaan dunia kerja terhadap kualitas pendidikan tinggi Indonesia dapat dipulihkan kembali demi kemajuan peradaban.
###
Penulis : Indriani Dwi Febrianti