Implikasi Jeda Akademik Terhadap Ketahanan Mental dan Konsistensi Belajar Siswa Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Jeda akademik yang panjang dalam kalender pendidikan sering kali membawa implikasi signifikan terhadap ketahanan mental siswa di jenjang sekolah dasar. Ketahanan mental dalam belajar atau academic resilience berkaitan dengan kemampuan siswa untuk tetap konsisten menghadapi tantangan belajar meskipun berada di luar tekanan sekolah. Libur panjang dapat menjadi pedang bermata dua; memberikan ruang istirahat atau justru memperlemah daya juang siswa dalam menghadapi kesulitan kognitif. Siswa yang terlalu lama terlepas dari rutinitas akademik cenderung mengalami penurunan ketangguhan saat dihadapkan kembali pada tugas-tugas yang kompleks. Konsistensi belajar yang seharusnya menjadi kebiasaan permanen perlahan luntur seiring dengan hilangnya pengawasan harian dari tenaga pendidik. Fenomena ini menggarisbawahi pentingnya menjaga keseimbangan aktivitas selama masa transisi dari sekolah ke rumah.
Implikasi negatif dari jeda akademik ini mulai terlihat saat siswa menunjukkan gejala keengganan akademik pada minggu-minggu pertama sekolah. Penurunan ketahanan mental membuat siswa lebih cepat merasa lelah, stres, dan kehilangan rasa percaya diri dalam menyelesaikan masalah. Mereka sering kali merasa kewalahan menghadapi beban tugas yang sebenarnya berada dalam batas kemampuan mereka sebelumnya. Hilangnya konsistensi ini menunjukkan bahwa disiplin belajar pada usia dasar masih sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor situasional lingkungan sekitarnya. Upaya untuk membangun kembali ketahanan mental memerlukan pendekatan psikologis yang tepat agar siswa tidak merasa tertekan dengan kembalinya rutinitas sekolah. Guru harus mampu menciptakan atmosfer kelas yang mendukung peningkatan daya lentur mental siswa secara bertahap namun pasti.
Ketahanan mental dan konsistensi belajar adalah dua pilar yang saling mendukung dalam menciptakan luaran pendidikan yang berkualitas tinggi. Siswa dengan ketahanan mental yang baik akan melihat jeda akademik sebagai kesempatan untuk melakukan refleksi dan pengembangan diri secara otonom. Namun, realitasnya menunjukkan bahwa banyak siswa yang justru mengalami kemunduran kemampuan akibat tidak adanya stimulasi mental yang berarti selama liburan. Kurangnya tantangan selama masa libur membuat otot intelektual siswa menjadi pasif dan sulit untuk diaktivasi kembali dalam waktu singkat. Ketidakkonsistenan ini berdampak pada fluktuasi prestasi yang dapat mengganggu rekam jejak akademik siswa dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, pemeliharaan kapasitas kognitif selama masa jeda merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditawar lagi.
Dampak jangka panjang dari rendahnya konsistensi belajar adalah terbentuknya mentalitas "belajar hanya saat di sekolah" yang sangat berbahaya bagi masa depan anak. Jika pola pikir ini menetap, siswa akan tumbuh menjadi individu yang hanya bekerja saat diawasi dan kehilangan inisiatif untuk berkembang secara mandiri. Kedisiplinan belajar seharusnya menjadi bagian dari identitas diri siswa, bukan sekadar atribut yang dipasang saat mengenakan seragam sekolah. Libur panjang menjadi ajang pembuktian apakah nilai-nilai konsistensi yang diajarkan di sekolah benar-benar telah meresap ke dalam karakter siswa. Kegagalan dalam mempertahankan konsistensi ini adalah sinyal bahwa sistem pendidikan perlu memperkuat penanaman motivasi intrinsik sejak dini. Ketahanan mental harus dilatih melalui pemberian tanggung jawab kecil yang berkelanjutan meskipun dalam suasana santai.
Sebagai langkah solutif, kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam merancang kegiatan "liburan produktif" menjadi sangat krusial untuk diimplementasikan secara masif. Kegiatan ini harus dirancang agar tetap menyenangkan namun tetap menuntut konsistensi dalam penyelesaiannya, seperti merawat tanaman atau membaca buku cerita tertentu. Dengan adanya target yang harus dicapai, ketahanan mental siswa tetap teruji dan konsistensi belajarnya tidak akan hilang begitu saja. Selain itu, pemberian apresiasi yang tulus terhadap upaya belajar mandiri siswa selama liburan dapat meningkatkan motivasi mereka untuk terus konsisten. Sekolah juga dapat memberikan sesi bimbingan psikologis singkat bagi siswa sebelum masa libur dimulai guna memberikan pembekalan mental. Melalui strategi yang komprehensif, jeda akademik diharapkan tidak lagi mengancam stabilitas belajar siswa, melainkan memperkuat karakter mereka.
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.