Implikasi Ketimpangan Literasi Dasar terhadap Rendahnya Daya Saing Lulusan di Level TKA
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Ketimpangan literasi dasar di tingkat sekolah dasar memiliki implikasi serius terhadap rendahnya daya saing lulusan saat menghadapi Tes Kompetensi Akademik (TKA). Literasi dasar, yang mencakup kemampuan bernalar secara matematis dan berkomunikasi dalam bahasa global, merupakan modalitas utama dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Ketika fondasi ini timpang atau lemah, maka siswa akan kesulitan dalam mengasimilasi pengetahuan baru yang bersifat lebih abstrak dan teknis. Fenomena rendahnya skor TKA adalah manifestasi dari akumulasi ketertinggalan belajar yang terjadi secara bertahun-tahun sejak masa awal pendidikan. Kondisi ini menuntut perhatian serius karena berkaitan langsung dengan kualitas angkatan kerja Indonesia di masa mendatang dalam pasar tenaga kerja internasional.
Analisis mendalam menunjukkan bahwa ketimpangan ini sering kali disebabkan oleh akses yang tidak merata terhadap sumber daya pendidikan berkualitas di jenjang dasar. Siswa yang tidak memiliki dasar matematika yang kuat sejak SD cenderung mengalami fobia terhadap angka, yang kemudian menghambat minat mereka pada bidang-bidang sains. Begitu pula dengan penguasaan bahasa Inggris; siswa yang tidak terpapar pada lingkungan bahasa yang baik sejak dini akan tertinggal dalam mengakses informasi global. Rendahnya daya saing di level TKA hanyalah gejala dari penyakit kronis berupa ketidakadilan pendidikan yang masih terjadi di negeri ini. Oleh karena itu, intervensi harus dilakukan dengan cara memperkuat pemerataan kualitas pengajaran di seluruh sekolah dasar tanpa terkecuali.
Implikasi lain dari rendahnya literasi dasar adalah munculnya hambatan dalam pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) di tingkat sekolah menengah. Tanpa kemampuan dasar yang mapan, siswa akan kesulitan melakukan sintesis dan evaluasi terhadap berbagai persoalan yang disajikan dalam soal-soal TKA. Hal ini menciptakan siklus kegagalan akademik yang sulit diputus jika tidak ada perbaikan yang signifikan pada metode pembelajaran di tingkat dasar. Investasi pada pengembangan literasi dan numerasi dini terbukti secara empiris sebagai faktor penentu utama kesuksesan ekonomi seorang individu di masa dewasa. Pemerintah harus memprioritaskan program-program peningkatan literasi dasar sebagai bagian dari strategi nasional pengentasan kemiskinan intelektual.
Selain faktor eksternal, motivasi internal siswa untuk menguasai matematika dan bahasa Inggris juga dipengaruhi oleh bagaimana kedua subjek tersebut dipresentasikan oleh guru di sekolah dasar. Pembelajaran yang membosankan dan tidak relevan dengan kebutuhan siswa akan semakin memperlebar jurang ketimpangan literasi dasar. Diperlukan inovasi dalam modul pembelajaran yang lebih interaktif dan menyenangkan untuk menarik minat siswa sejak usia dini. Peran teknologi informasi dapat dimanfaatkan untuk menyediakan akses terhadap materi berkualitas tinggi bagi siswa di wilayah-wilayah yang kekurangan tenaga pendidik ahli. Ketimpangan literasi adalah tantangan kolektif yang harus dijawab dengan kolaborasi lintas sektoral yang kuat dan berkelanjutan.
Sebagai penutup, penguatan literasi dasar di sekolah dasar adalah harga mati untuk meningkatkan daya saing bangsa di panggung dunia. Kita tidak boleh membiarkan skor TKA yang rendah menjadi norma baru dalam sistem pendidikan nasional kita tanpa ada upaya perbaikan yang berarti. Setiap anak Indonesia berhak mendapatkan fondasi pendidikan yang kokoh agar mereka mampu meraih cita-cita setinggi mungkin. Masa depan daya saing lulusan kita ditentukan oleh apa yang kita tanamkan di dalam kelas sekolah dasar hari ini. Mari kita fokus pada perbaikan kualitas literasi dan numerasi dasar sebagai langkah konkret menuju Indonesia Emas 2045.
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.