Inklusi di Sekolah Dasar: Menerima Perbedaan Sejak Dini
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Sekolah dasar merupakan ruang awal anak mengenal keberagaman. Anak-anak datang dengan latar belakang, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda. Namun, sistem pendidikan sering belum sepenuhnya inklusif. Anak berkebutuhan khusus masih mengalami stigma dan marginalisasi. Pendidikan dasar menghadapi tantangan besar dalam hal inklusi.
Banyak sekolah belum memiliki fasilitas dan sumber daya pendukung inklusi. Guru sering belum terlatih menangani kelas inklusif. Akibatnya, anak-anak dengan kebutuhan khusus tidak mendapatkan layanan optimal. Padahal, inklusi bukan sekadar menerima, tetapi memastikan setiap anak belajar dengan layak. Pendidikan dasar harus bertransformasi.
Inklusi juga mencakup perbedaan sosial, budaya, dan ekonomi. Anak-anak dari keluarga kurang mampu sering merasa terpinggirkan. Sekolah harus sensitif terhadap kondisi ini. Pendidikan dasar tidak boleh menjadi ruang eksklusi sosial. Setiap anak berhak merasa diterima.
Membangun sekolah inklusif membutuhkan perubahan paradigma. Perbedaan harus dilihat sebagai kekayaan, bukan masalah. Anak-anak perlu diajarkan empati dan toleransi sejak dini. Sekolah dasar adalah tempat ideal menanamkan nilai tersebut. Inklusi adalah bagian dari pendidikan karakter.
Pendidikan dasar yang inklusif akan melahirkan masyarakat yang lebih adil. Anak-anak belajar hidup bersama dalam keberagaman. Sekolah menjadi miniatur masyarakat ideal. Inklusi bukan pilihan, tetapi keharusan. Pendidikan dasar memegang peran kunci dalam mewujudkannya.
####
Penulis: Aida Meilina