Instagram untuk Mengembangkan Kreativitas dan Apresiasi Karya
Di era digital, Instagram menjadi salah satu
platform visual paling populer. Meski sering dianggap sebagai media hiburan,
Instagram memiliki potensi besar untuk digunakan sebagai alat dokumentasi
pembelajaran di sekolah dasar—tentu dengan pengelolaan yang aman dan diarahkan
oleh guru. Dalam konteks pendidikan, Instagram dapat berfungsi sebagai
portofolio digital yang menampilkan perkembangan karya siswa secara teratur.
Portofolio digital merupakan kumpulan karya siswa
yang terekam dalam bentuk foto, video, atau catatan perkembangan. Instagram,
dengan struktur unggahan visualnya yang rapi, memudahkan guru mengorganisasi
dokumentasi pembelajaran. Misalnya, guru dapat membuat akun khusus kelas,
tempat berbagai karya siswa diunggah, seperti gambar, hasil projek P5,
eksperimen IPA, atau rekaman membaca. Dengan demikian, orang tua dapat melihat
perkembangan belajar anak secara langsung dan transparan.
Selain sebagai dokumentasi, Instagram juga dapat
meningkatkan motivasi siswa. Anak-anak cenderung merasa bangga ketika karya
mereka diapresiasi. Dengan izin orang tua, guru dapat mengunggah foto karya
siswa dan menambahkan caption yang positif, seperti “Hari ini kita belajar
membuat kolase bertema lingkungan” atau “Hasil eksperimen sederhana tentang
perubahan wujud benda.” Unggahan seperti ini mendorong siswa untuk berusaha
lebih baik pada pembelajaran berikutnya.
Guru pun dapat memanfaatkan fitur-fitur Instagram
secara edukatif. Misalnya, fitur carousel dapat digunakan untuk menampilkan
langkah-langkah sebuah projek. Fitur video pendek (Reels) dapat digunakan untuk
mendokumentasikan kegiatan kelas secara dinamis. Sedangkan fitur story dapat
digunakan untuk memberikan pengumuman harian atau polling sederhana kepada
orang tua, seperti menentukan topik projek minggu berikutnya.
Namun, penggunaan Instagram untuk keperluan
pendidikan harus disertai pedoman yang ketat. Pertama, guru tidak boleh
mengunggah wajah siswa tanpa persetujuan tertulis dari orang tua. Jika
diperlukan, karya siswa dapat ditampilkan tanpa menampilkan identitas pribadi.
Kedua, akun harus bersifat privat dan hanya diakses oleh orang tua dan pihak
sekolah. Ketiga, guru harus menghindari penggunaan Instagram sebagai media
komunikasi utama; platform ini hanya untuk dokumentasi dan apresiasi, bukan
tempat berkonsultasi akademik.
Selain itu, guru perlu membiasakan siswa memahami
etika digital sejak dini. Misalnya, tidak semua karya harus dibandingkan, tidak
semua foto harus sempurna, dan tidak semua aktivitas harus diunggah.
Keseimbangan sangat penting agar siswa tidak berkembang menjadi pengguna
digital yang bergantung pada validasi.
Instagram bukanlah platform belajar langsung,
tetapi dapat menjadi ruang apresiasi yang memperkuat pembelajaran
sosial-emosional. Ketika anak merasa dihargai, mereka lebih percaya diri dan
lebih termotivasi untuk belajar. Portofolio digital ini juga menjadi arsip
perkembangan siswa yang berguna bagi guru saat melakukan evaluasi atau menyusun
laporan perkembangan belajar.
Penulis: Windha Ana Sevia