Integrasi Data TKA 2025 dan PISA dalam Menelusuri Akar Kemunduran Numerasi Nasional
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Integrasi data antara hasil Tes Kemampuan Akademik atau TKA 2025 dengan capaian PISA memberikan perspektif yang sangat komprehensif mengenai kondisi numerasi di Indonesia. Fenomena penurunan skor yang terjadi secara konsisten pada kedua instrumen penilaian ini mengindikasikan adanya masalah fundamental dalam penguasaan konsep matematika dasar. Penelusuran lebih mendalam menunjukkan bahwa siswa cenderung mengalami kesulitan saat dihadapkan pada soal yang membutuhkan penalaran logika tingkat tinggi.
Pola kesalahan yang berulang ini bukan lagi menjadi masalah individual siswa melainkan menjadi indikasi kegagalan kolektif dalam sistem instruksional numerasi secara nasional. Perlu disadari bahwa numerasi bukan sekadar keterampilan menghitung angka secara mekanis melainkan kemampuan untuk menginterpretasikan data dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa penguatan pada aspek ini, daya saing sumber daya manusia Indonesia dalam sektor teknologi dan sains akan terus tertinggal jauh dari negara lain.
Kondisi sosiogeografis yang beragam di Indonesia menuntut adanya pendekatan pembelajaran numerasi yang lebih adaptif dan kontekstual bagi siswa di berbagai daerah. Kurikulum matematika saat ini dinilai masih terlalu padat akan materi teoritis sehingga kurang memberikan ruang bagi pengembangan kemampuan aplikatif yang nyata. Guru sebagai fasilitator pembelajaran sering kali terjebak pada metode ceramah yang membosankan dan tidak merangsang rasa ingin tahu siswa terhadap dunia angka.
Oleh karena itu, diperlukan revitalisasi metodologi pengajaran yang lebih interaktif dan berbasis pada pemecahan masalah nyata yang ditemui siswa di lapangan. Kebijakan pendidikan harus mulai memprioritaskan pelatihan intensif bagi guru mengenai teknik pedagogi numerasi yang inovatif serta menyenangkan bagi anak. Evaluasi berkala terhadap efektivitas metode baru juga perlu dilakukan untuk memastikan terjadinya peningkatan kompetensi yang signifikan pada peserta didik.
Dukungan berupa penyediaan perangkat teknologi penunjang pembelajaran numerasi dapat menjadi akselerator dalam mengejar ketertinggalan skor global yang kian lebar. Namun, teknologi tersebut harus dipandang sebagai sarana pendukung dan bukan sebagai pengganti peran sentral guru dalam proses mendidik secara manusiawi. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengalokasikan anggaran khusus menjadi syarat mutlak bagi keberhasilan penguatan numerasi nasional pada masa depan.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.