Integrasi Nilai Karakter dalam Pembelajaran STEM di Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) menjadi tren global yang kini juga diadopsi di sekolah dasar. Namun, integrasi STEM sering kali hanya berfokus pada aspek konten dan keterampilan teknis, sementara nilai karakter belum mendapat perhatian cukup. Padahal, karakter seperti kerja sama, ketekunan, rasa ingin tahu, dan tanggung jawab merupakan fondasi utama dalam pembelajaran sains dan teknologi. Pendidikan karakter dalam STEM sangat relevan karena proses pemecahan masalah selalu melibatkan aspek moral dan etika. Integrasi nilai karakter membuat STEM menjadi lebih holistik dan sesuai dengan perkembangan anak.
Penerapan proyek STEM memberikan ruang besar untuk menanamkan karakter positif. Dalam proyek, siswa bekerja dalam kelompok sehingga memerlukan komunikasi efektif, saling menghargai, dan pembagian tugas yang seimbang. Ketika siswa menghadapi tantangan eksperimen, mereka berlatih untuk tidak mudah menyerah dan mencari alternatif solusi. Aktivitas ini juga menanamkan kejujuran ilmiah, yaitu menyampaikan hasil apa adanya tanpa manipulasi data. Integrasi ini membuat proses belajar menjadi lebih bermakna bagi siswa.
Salah satu pendekatan yang produktif adalah STEM with values, yaitu mengaitkan kegiatan eksperimen dengan nilai-nilai tertentu. Contohnya, ketika siswa membuat alat penyaring air sederhana, guru dapat mengaitkannya dengan nilai kepedulian lingkungan. Integrasi ini membantu siswa melihat hubungan antara ilmu pengetahuan dengan kehidupan nyata. Selain itu, pendekatan tersebut memperkuat pemahaman bahwa pengetahuan harus digunakan untuk kebaikan bersama. Dengan demikian, karakter tidak diajarkan secara terpisah tetapi menjadi bagian utuh dari kegiatan STEM.
Guru memiliki peran krusial dalam memfasilitasi integrasi karakter melalui perencanaan yang tepat. Guru harus mencermati nilai apa yang ingin diperkuat pada setiap aktivitas, kemudian menyusun indikator pengamatan selama proses berlangsung. Refleksi bersama setelah proyek perlu dilakukan agar siswa menyadari karakter apa yang telah mereka kembangkan. Guru dapat mengajukan pertanyaan pemantik seperti “apa tantangan yang kamu hadapi?” atau “bagaimana kelompokmu bekerja sama?”. Refleksi tersebut menjadi jembatan penting bagi internalisasi nilai.
Integrasi karakter dalam STEM akan menghasilkan pengalaman belajar yang tidak hanya mengasah kompetensi akademik, tetapi juga keterampilan hidup. Siswa belajar bahwa pengetahuan ilmiah harus diiringi dengan tanggung jawab moral. Efektivitas pembelajaran STEM sangat bergantung pada keseimbangan antara kemampuan kognitif dan karakter. Dengan integrasi yang baik, pembelajaran STEM dapat membentuk generasi yang kreatif, kolaboratif, serta beretika. Hal ini menjadi modal utama bagi keberhasilan pendidikan dasar di masa depan.
####
Penulis: Aida Meilina