Integrasi Nilai Kemanusiaan dan Moralitas dalam Filsafat Pendidikan Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Ontologi pendidikan dasar dalam perspektif humanistik memandang anak sebagai makhluk bermoral yang memiliki potensi untuk tumbuh menjadi manusia yang beretika. Carl Rogers menekankan bahwa pendidikan harus berpusat pada peserta didik dan menumbuhkan rasa percaya diri, empati, serta tanggung jawab moral. Pandangan ini menegaskan bahwa pendidikan dasar adalah tahap awal pembentukan kesadaran moral.
Secara epistemologis, pengetahuan moral diperoleh melalui pengalaman sosial dan refleksi diri. Lawrence Kohlberg menjelaskan bahwa perkembangan moral anak terjadi melalui tahapan, dari ketaatan terhadap aturan menuju kesadaran nilai universal. Oleh karena itu, pendidikan dasar harus menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan anak memahami konsekuensi moral dari setiap tindakan.
Aksiologi pendidikan dasar menekankan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan seperti kejujuran, keadilan, dan kasih sayang. Nilai-nilai ini tidak hanya diajarkan melalui teori, tetapi dihidupkan melalui keteladanan guru dan budaya sekolah. Albert Bandura menekankan pentingnya pembelajaran sosial, di mana anak belajar melalui pengamatan terhadap perilaku orang dewasa.
Integrasi nilai kemanusiaan dalam pendidikan dasar harus menjadi strategi yang berkelanjutan. Program pembelajaran, proyek sosial, dan kegiatan berbasis komunitas dapat menjadi sarana untuk menanamkan moralitas secara kontekstual.
Dengan demikian, pendidikan dasar tidak sekadar mengajarkan literasi dan numerasi, tetapi juga membangun fondasi moral bagi masyarakat yang lebih beradab dan manusiawi.
Penulis : Neni Mariana, S.Pd., M.Sc., Ph.D.
Gambar : google.com