Integritas di Ujung Jari: Program Baru Ajarkan Siswa SD Menghargai Karya Orisinal
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi bekerja sama dengan dinas pendidikan kota Surabaya meluncurkan program pendidikan karakter bertajuk “Integritas di Ujung Jari” untuk siswa sekolah dasar se-Kota Surabaya. Program ini dirancang khusus untuk mengenalkan pentingnya menghargai karya asli sejak usia dini, dengan fokus pada aktivitas yang melibatkan keterampilan tangan seperti menggambar, membuat kerajinan tangan, dan menulis cerita pendek. Pelaksanaan program dimulai pada semester ganjil tahun ajaran ini dan akan diterapkan di seluruh 250 sekolah dasar negeri dan swasta di wilayah kota.
Pemilihan tema “di ujung jari” diambil karena aktivitas praktis yang dilakukan siswa dapat langsung menunjukkan hasil karya mereka sendiri. Setiap siswa akan diberikan buku aktivitas yang memandu mereka untuk mengembangkan ide sendiri, membuat rencana awal, hingga menyelesaikan karya dengan menandai tanda tangan unik sebagai bukti keaslian. Guru kelas telah menjalani pelatihan khusus selama tiga hari untuk memahami metode pengajaran yang tepat dan cara membimbing siswa tanpa mengganggu kreativitas alami mereka.
Salah satu sekolah yang lokasi menjadi uji coba program adalah SD Negeri 10 Surabaya. Selama satu bulan pelaksanaan, siswa kelas 3 hingga 6 menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap berbagai aktivitas yang diberikan. Misalnya, dalam kegiatan menggambar alam sekitar, siswa tidak hanya meniru gambar dari buku pelajaran tetapi juga mengamati langsung lingkungan sekolah untuk membuat karya yang sesuai dengan pengamatan pribadi mereka. Hasil karya siswa kemudian dipajang di lorong sekolah dengan label nama dan tanggal pembuatan sebagai bentuk penghargaan terhadap karya asli mereka.
Kolaborasi dengan orang tua siswa menjadi bagian penting dalam keberhasilan program ini. Sekolah mengadakan pertemuan orang tua untuk menjelaskan tujuan dan manfaat integritas pendidikan serta keasliannya. Orang tua diminta untuk mendukung anak-anak mereka di rumah dengan memberikan ruang dan waktu untuk mengembangkan ide kreatif sendiri, serta menghindari kebiasaan meniru karya orang lain. Beberapa orang tua bahkan mengikuti lokakarya bersama anak-anak mereka untuk lebih memahami cara mendorong kreativitas dan integritas.
Evaluasi awal menunjukkan hasil yang positif, dengan sebagian besar siswa mampu membedakan antara karya asli dan tiruan, serta menunjukkan kesadaran yang lebih tinggi tentang pentingnya menghargai hak cipta karya orang lain. Program ini juga direncanakan untuk mencakup tingkat sekolah menengah pertama pada tahun ajaran depan, dengan penyesuaian materi yang sesuai dengan perkembangan usia siswa. Dinas Pendidikan berharap program ini dapat menjadi landasan bagi pembentukan karakter generasi muda yang memiliki keutuhan tinggi dan menghargai nilai karya kreatif.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah