Jembatan Inklusi Bahasa: Kelas Multikultural dengan Dukungan Google Translate
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Meningkatnya mobilitas penduduk antar daerah bahkan antar negara membuat komposisi kelas-kelas di sekolah dasar semakin beragam secara bahasa dan budaya, menuntut adanya pendekatan pendidikan yang inklusif dan ramah bagi semua (SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan). Bagi siswa pindahan dari daerah lain yang memiliki bahasa daerah berbeda, atau siswa ekspatriat dengan latar belakang bahasa ibu asing, aplikasi Google Translate menjadi alat bantu vital untuk beradaptasi di lingkungan baru. Guru dapat menggunakan fitur mode percakapan (conversation mode) atau kamera penerjemah instan di Google Translate untuk membantu siswa memahami instruksi pelajaran, pengumuman sekolah, atau berkomunikasi dengan teman sekelas secara real-time.
Dalam skenario pembelajaran sehari-hari, jika ada siswa yang belum lancar berbahasa Indonesia, guru dapat mengizinkan penggunaan fitur translate untuk menerjemahkan materi ajar tertulis ke bahasa ibu siswa tersebut, atau sebaliknya, siswa dapat menulis dalam bahasa ibunya lalu menerjemahkannya ke Bahasa Indonesia untuk dibaca guru. Hal ini secara signifikan menurunkan tingkat stres, frustrasi, dan kecemasan siswa dalam belajar, membuat mereka merasa diterima, dihargai, dan didukung oleh lingkungan sekolahnya. Teman sekelas pun diajak untuk menggunakan aplikasi ini untuk belajar sapaan dasar atau kata-kata sederhana dalam bahasa teman barunya, membangun jembatan persahabatan yang tulus.
Penggunaan teknologi penerjemah ini mengajarkan nilai toleransi, empati, dan rasa ingin tahu yang tinggi kepada seluruh siswa. Mereka melihat perbedaan bahasa bukan sebagai hambatan yang memisahkan, melainkan sebagai tantangan menarik yang bisa diatasi dengan bantuan teknologi. Mereka belajar menghargai usaha keras teman yang sedang berjuang mempelajari bahasa baru. Google Translate dalam konteks ini mengubah hambatan komunikasi yang kaku menjadi peluang pembelajaran budaya yang kaya dan bermakna bagi seluruh kelas.
Selain membantu siswa di kelas, alat ini juga sangat membantu guru dan pihak sekolah dalam berkomunikasi dengan orang tua siswa yang mungkin memiliki keterbatasan bahasa yang sama. Surat edaran, laporan perkembangan siswa, atau undangan rapat sekolah dapat diterjemahkan terlebih dahulu sebelum dikirimkan, memastikan pelibatan orang tua tetap optimal demi keberhasilan pendidikan anak. Inklusi bahasa ini memastikan bahwa tidak ada orang tua yang tertinggal informasi penting mengenai pendidikan anaknya hanya karena kendala bahasa.
Pada akhirnya, integrasi Google Translate dalam manajemen kelas multikultural menciptakan lingkungan sekolah yang benar-benar ramah dan inklusif bagi semua. Teknologi ini menjadi penjamin bahwa hak asasi setiap anak untuk mendapatkan pendidikan berkualitas tidak akan terhalang oleh perbedaan bahasa, mewujudkan semangat "Bhinneka Tunggal Ika" dalam format digital yang nyata dan aplikatif di dunia pendidikan modern.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia