Jurang Digital Baru: Kesenjangan Akses AI dan Kualitas Belajar Mahasiswa
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Seiring dengan penetrasi AI yang semakin dalam di perguruan tinggi, muncul sebuah paradoks pendidikan yang mencemaskan di tahun 2026: lahirnya jurang digital baru yang berbasis pada akses terhadap model AI tercanggih. Sementara mahasiswa dari kalangan ekonomi atas mampu berlangganan layanan AI premium yang memiliki kemampuan analisis lebih tajam, mahasiswa kurang mampu harus puas dengan model gratisan yang sering kali memberikan data kurang akurat. Fenomena ini memicu pertanyaan besar bagi pengelola kampus pascasarjana tentang bagaimana menjaga keadilan proses belajar ketika "asisten digital" yang digunakan tidak setara kualitasnya.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kualitas tugas akademik mahasiswa mulai dipengaruhi oleh seberapa canggih algoritma yang mereka gunakan. Mahasiswa dengan akses premium dapat memproses ratusan jurnal dalam hitungan menit menjadi ringkasan yang sempurna, memberikan mereka keuntungan kompetitif yang tidak adil. Belajar tidak lagi sekadar soal ketekunan individu, melainkan soal kapasitas finansial untuk mengakses teknologi pendukung. Jika universitas tidak segera bertindak, maka nilai akademik di masa depan mungkin lebih mencerminkan daya beli mahasiswa daripada daya pikir mereka yang sesungguhnya.
Analisis sosiologis pendidikan memperingatkan bahwa kesenjangan ini dapat menciptakan stratifikasi baru di ruang kuliah. Mahasiswa dengan "bantuan mesin" terbaik akan selalu tampak lebih unggul dalam diskusi kelas karena mereka mendapatkan asupan argumen yang lebih mutakhir secara instan. Kondisi ini dapat menurunkan rasa percaya diri mahasiswa yang harus berjuang secara konvensional atau dengan alat bantu terbatas. Keadilan akademik terancam ketika standar evaluasi tidak mempertimbangkan disparitas alat bantu yang digunakan dalam proses belajar.
Beberapa universitas besar mulai merespons hal ini dengan menyediakan akses AI premium secara gratis melalui jaringan kampus. Namun, kebijakan ini belum merata di seluruh institusi pendidikan tinggi di Indonesia, terutama pada kampus-kampus swasta menengah ke bawah. Kesenjangan akses ini pada akhirnya akan berdampak pada kualitas lulusan secara nasional. Belajar yang seharusnya menjadi sarana mobilitas vertikal bagi semua kalangan, kini terancam menjadi alat untuk memperkokoh dominasi mereka yang sudah memiliki kekuatan modal di era ekonomi digital.
Sudut pandang dari pengamat kebijakan publik menekankan pentingnya intervensi pemerintah untuk melakukan standarisasi akses teknologi di pendidikan tinggi. Negara harus memastikan bahwa infrastruktur AI menjadi fasilitas publik bagi seluruh mahasiswa agar proses belajar tetap berada di atas landasan kesetaraan. Tanpa pemerataan akses, target Indonesia Emas 2045 hanya akan dinikmati oleh segelintir elit yang mampu menaklukkan algoritma, sementara jutaan mahasiswa lainnya tertinggal dalam kegelapan literasi teknologi yang usang.
Selain akses perangkat, kesenjangan juga terjadi pada level literasi penggunaan (prompt engineering). Mahasiswa yang mendapatkan pelatihan khusus akan jauh lebih efektif dalam belajar dibanding mereka yang belajar secara otodidak. Oleh karena itu, kurikulum perguruan tinggi harus memasukkan literasi AI sebagai mata kuliah wajib guna membekali seluruh mahasiswa dengan keterampilan yang sama. Penjagaan mutu pendidikan dasar dan tinggi di era AI dimulai dari pengakuan bahwa teknologi adalah kebutuhan dasar yang harus didistribusikan secara adil dan merata kepada seluruh anak bangsa.
Penutupnya, jurang digital baru ini adalah alarm serius bagi integritas sistem pendidikan kita. Universitas harus menjadi tempat di mana otak manusia diadu secara adil, bukan tempat di mana langganan aplikasi menentukan masa depan. Proses belajar yang sejati harus tetap berpijak pada usaha manusiawi yang dihargai secara objektif. Jika kita membiarkan kesenjangan akses AI ini terus melebar, kita sebenarnya sedang membangun tembok pemisah baru dalam dunia ilmu pengetahuan yang seharusnya bersifat membebaskan dan inklusif bagi siapa saja.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah