Jurang Kompetensi SD: Mengapa Pendampingan Belajar di Rumah Tidak Boleh Diabaikan?
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Analisis terhadap hasil nilai nasional pada jenjang Sekolah Dasar (SD) mengungkap fakta mencemaskan mengenai melebarnya jurang kompetensi antara siswa, yang ternyata berakar dari kualitas pendampingan belajar di rumah. Evaluasi ini menunjukkan bahwa perbedaan prestasi sering kali bukan disebabkan oleh perbedaan kecerdasan bawaan, melainkan oleh seberapa besar andil orang tua dalam menciptakan lingkungan literasi yang kondusif. Ketidakpedulian orang tua terhadap perkembangan literasi dini adalah faktor risiko terbesar yang menyebabkan anak tertinggal secara sistemik sejak tahun-tahun pertama sekolah mereka.
Numerasi dan literasi dasar di SD memerlukan pengulangan (drill) dan penguatan yang tidak mungkin hanya dilakukan di sekolah yang memiliki waktu terbatas. Guru mungkin memberikan konsep, namun orang tualah yang bertugas memastikan konsep tersebut "mendarat" sempurna melalui latihan-latihan ringan di rumah. Evaluasi peran keluarga menunjukkan bahwa anak-anak yang jarang diajak mengulas kembali pelajaran sekolah di rumah cenderung mengalami penurunan daya ingat jangka panjang terhadap materi pelajaran. Inilah yang menyebabkan skor TKA dan ujian standar lainnya menjadi rendah.
Masalah ekonomi sering kali dijadikan alasan bagi kurangnya pendampingan, namun evaluasi menunjukkan bahwa literasi dini lebih berkaitan dengan "investasi waktu" daripada "investasi uang". Orang tua yang memiliki kesadaran tinggi akan pendidikan, meskipun dengan fasilitas terbatas, tetap mampu mendukung anak dengan cara-cara kreatif seperti bercerita atau mengajak anak mengamati fenomena alam. Sebaliknya, pengabaian belajar di rumah oleh orang tua yang mampu secara finansial namun sibuk secara pekerjaan tetap akan berdampak buruk pada mentalitas pembelajar sang anak.
Selain itu, literasi dini mencakup aspek kedisiplinan dan manajemen waktu yang harus ditanamkan sejak SD. Orang tua yang tidak menetapkan jadwal belajar yang rutin di rumah secara tidak langsung sedang mengajarkan anak untuk tidak menghargai proses akademik. Kedisiplinan adalah prasyarat literasi; tanpa konsistensi di rumah, anak akan sulit mengikuti ritme pembelajaran di sekolah yang semakin hari semakin menuntut fokus tinggi. Peran orang tua sebagai "manajer waktu" di rumah adalah fondasi yang membantu anak mengatur prioritas hidupnya sejak dini.
Evaluasi terhadap partisipasi orang tua juga menunjukkan pentingnya komunikasi dua arah dengan guru kelas. Banyak orang tua yang baru menyadari masalah belajar anak saat rapor merah sudah keluar, padahal gejala kegagalan literasi bisa dideteksi jauh sebelumnya melalui pengamatan rutin di rumah. Orang tua harus menjadi pengamat pertama yang peka terhadap kesulitan anak dalam membaca atau berhitung. Kepekaan ini hanya bisa muncul jika ada interaksi yang intens dan kepedulian yang tulus terhadap perjalanan pendidikan sang anak di setiap harinya.
Sebagai penutup, perbaikan literasi nasional harus dimulai dengan memperkuat barisan di rumah. Pendampingan belajar bukan berarti mengambil alih tugas guru, melainkan memberikan dukungan moral dan fasilitas nalar agar anak merasa didukung dalam perjuangannya. Kita harus sadar bahwa setiap menit yang kita habiskan untuk mendampingi anak belajar adalah batu bata untuk masa depan mereka yang lebih cerah. Mari kita tutup jurang kompetensi ini dengan kembali hadir secara utuh di meja belajar rumah, mendampingi setiap langkah literasi dini anak-anak kita.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah