Kegiatan Pendidikan di Sekolah Selama Bulan Ramadhan: Membangun Iman dan Taqwa
s2dikdas.fip.unesa.ac.id. SURABAYA –
Bulan Ramadhan membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam
dunia pendidikan. Di banyak sekolah di Indonesia, jadwal kegiatan belajar
mengajar mengalami penyesuaian agar tetap berjalan efektif tanpa mengurangi
nilai ibadah bagi siswa yang menjalankan puasa. Namun, tantangan yang dihadapi
adalah bagaimana memastikan bahwa selama bulan suci ini, siswa tetap
mendapatkan pendidikan yang berkualitas, sekaligus memperkuat iman dan
ketakwaan mereka. Salah satu penyesuaian yang dilakukan adalah mengatur ulang
jadwal belajar agar lebih singkat dan lebih ringan. Hal ini dilakukan untuk
menyesuaikan dengan kondisi fisik siswa yang menjalankan puasa, terutama saat
energi mereka mulai berkurang menjelang siang hingga sore hari. Meski waktu
belajar berkurang, sekolah tetap berupaya menjaga efektivitas pembelajaran
dengan menerapkan metode yang lebih interaktif dan relevan dengan suasana
Ramadhan.
Selain pelajaran akademik, bulan Ramadhan juga menjadi momen yang
tepat bagi sekolah untuk meningkatkan kegiatan keagamaan. Banyak sekolah
mengadakan pesantren kilat, yang bertujuan untuk memperdalam pemahaman siswa
tentang ajaran Islam, baik dari segi ibadah, akhlak, maupun kehidupan sosial.
Selain itu, tadarus Al-Qur’an menjadi salah satu kegiatan rutin yang dilakukan
sebelum atau setelah jam pelajaran, sebagai bentuk pembiasaan membaca dan
memahami kitab suci. Tidak hanya itu, bulan Ramadhan juga menjadi kesempatan
bagi siswa untuk belajar tentang kepedulian sosial. Banyak sekolah mengadakan
kegiatan berbagi takjil, santunan kepada anak yatim, serta penggalangan dana
untuk masyarakat yang membutuhkan. Melalui kegiatan ini, siswa diajarkan untuk
lebih peka terhadap kondisi sosial di sekitar mereka serta memahami pentingnya
berbagi dengan sesama.
Meskipun kegiatan selama Ramadhan membawa banyak manfaat, ada beberapa tantangan yang sering dihadapi. Rasa lelah dan kantuk bisa membuat siswa kehilangan fokus saat belajar. Selain itu, ada juga tantangan dalam memastikan bahwa semua siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan keagamaan, terutama bagi mereka yang belum terbiasa menjalankan ibadah secara rutin.
Untuk mengatasi hal ini, sekolah perlu menerapkan metode
pembelajaran yang lebih fleksibel dan menarik, seperti diskusi kelompok,
pemanfaatan media digital, serta penyampaian materi dengan cara yang lebih
ringan namun tetap bermakna. Guru juga berperan penting dalam membimbing siswa
agar tetap semangat dalam belajar dan beribadah selama bulan suci ini.
Jika kegiatan pendidikan selama Ramadhan dikelola dengan baik, bukan
hanya pemahaman akademik siswa yang meningkat, tetapi juga kualitas iman dan
ketakwaan mereka. Bulan suci ini bisa menjadi momen yang tepat untuk membentuk
karakter siswa agar lebih disiplin, sabar, serta memiliki kepedulian yang
tinggi terhadap sesama. Dengan keseimbangan antara pendidikan dan nilai-nilai
spiritual, diharapkan generasi muda dapat tumbuh menjadi individu yang cerdas
secara intelektual dan kuat dalam moral serta spiritualnya.
Penulis: Shevila Salsabila Al Aziz