Kembalinya Calistung: Dampak pada Kesiapan Siswa Masuk SD
Kebijakan penghapusan tes membaca, menulis, dan berhitung (Calistung) sebagai syarat masuk Sekolah Dasar (SD) sempat disambut baik sebagai langkah untuk mengembalikan dunia anak usia dini pada fitrahnya: bermain sambil belajar. Tujuannya adalah untuk mengurangi tekanan akademis pada anak-anak di tingkat PAUD dan TK. Akan tetapi, beberapa tahun setelah kebijakan ini berjalan, muncul kekhawatiran baru dari para guru kelas 1 SD yang merasa "kewalahan" menghadapi siswa dengan kemampuan dasar yang sangat beragam.
Fenomena ini memicu evaluasi ulang, yang akhirnya melahirkan gerakan "Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan", di mana pengenalan Calistung dilakukan secara bertahap dan terintegrasi dengan permainan. Guru kelas awal kini dituntut untuk memiliki kemampuan pedagogis yang lebih adaptif, mampu mengajar siswa yang sudah lancar membaca di samping siswa yang bahkan belum mengenal huruf. Ini menjadi tantangan tersendiri dalam manajemen kelas dengan jumlah siswa yang besar.
Kini, perdebatan bergeser bukan lagi pada "apakah Calistung perlu diajarkan sebelum SD", melainkan "bagaimana cara mengajarkannya dengan benar". Para ahli pendidikan menekankan pentingnya metode yang tidak menekan anak, serta perlunya sinergi kuat antara kurikulum PAUD dan SD. Kegagalan dalam menjembatani transisi ini berisiko menciptakan beban ganda, baik bagi guru yang harus mengejar ketertinggalan siswa, maupun bagi siswa yang mungkin merasa minder sejak awal masa sekolahnya.Kebijakan penghapusan tes membaca, menulis, dan berhitung (Calistung) sebagai syarat masuk Sekolah Dasar (SD) sempat disambut baik sebagai langkah untuk mengembalikan dunia anak usia dini pada fitrahnya: bermain sambil belajar. Tujuannya adalah untuk mengurangi tekanan akademis pada anak-anak di tingkat PAUD dan TK. Akan tetapi, beberapa tahun setelah kebijakan ini berjalan, muncul kekhawatiran baru dari para guru kelas 1 SD yang merasa "kewalahan" menghadapi siswa dengan kemampuan dasar yang sangat beragam.
Fenomena ini memicu evaluasi ulang, yang akhirnya melahirkan gerakan "Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan", di mana pengenalan Calistung dilakukan secara bertahap dan terintegrasi dengan permainan. Guru kelas awal kini dituntut untuk memiliki kemampuan pedagogis yang lebih adaptif, mampu mengajar siswa yang sudah lancar membaca di samping siswa yang bahkan belum mengenal huruf. Ini menjadi tantangan tersendiri dalam manajemen kelas dengan jumlah siswa yang besar.
Kini, perdebatan bergeser bukan lagi pada "apakah Calistung perlu diajarkan sebelum SD", melainkan "bagaimana cara mengajarkannya dengan benar". Para ahli pendidikan menekankan pentingnya metode yang tidak menekan anak, serta perlunya sinergi kuat antara kurikulum PAUD dan SD. Kegagalan dalam menjembatani transisi ini berisiko menciptakan beban ganda, baik bagi guru yang harus mengejar ketertinggalan siswa, maupun bagi siswa yang mungkin merasa minder sejak awal masa sekolahnya.