Kemudahan AI dan Risiko Hilangnya Pengalaman Transformasi Mental Mahasiswa di Ruang Kuliah
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Masuknya kecerdasan buatan ke ruang kuliah membawa sebuah paradoks besar antara efisiensi hasil dan kualitas proses transformasi mental mahasiswa. Di satu sisi, teknologi menawarkan kemudahan luar biasa dalam mengakses informasi dan menyelesaikan berbagai tugas akademik yang bersifat sangat administratif. Namun di sisi lain, kemudahan tersebut berisiko menghilangkan pengalaman perjuangan intelektual yang sangat penting bagi pendewasaan pikiran setiap individu. Belajar yang sesungguhnya adalah sebuah proses transformasi mental yang memerlukan ketekunan, kesabaran, serta keberanian dalam menghadapi berbagai kegagalan intelektual. Jika segala rintangan tersebut dihilangkan oleh kecerdasan buatan, maka mahasiswa tidak akan pernah merasakan kepuasan dari sebuah pencapaian yang tulus. Padahal, kekuatan karakter seseorang sering kali terbentuk melalui proses belajar yang sulit dan penuh dengan tantangan yang sangat berarti. Kita harus waspada agar kemudahan teknologi tidak membuat generasi muda kita menjadi lemah secara mental dan intelektual.
Transformasi mental terjadi ketika seorang mahasiswa dipaksa untuk berpikir di luar zona nyamannya guna memecahkan masalah-masalah yang bersifat sangat kompleks. Proses merenung, menganalisis, dan menghubungkan berbagai konsep secara mandiri adalah latihan beban bagi otak yang sangat diperlukan untuk perkembangan kognitif. Ketika kecerdasan buatan mengambil alih beban tersebut, maka otot-otot berpikir mahasiswa akan mengalami atrofi atau pelemahan fungsi secara perlahan. Hal ini akan mengakibatkan hilangnya kemampuan mahasiswa untuk melakukan refleksi mendalam terhadap fenomena-fenomena sosial yang terjadi di sekitarnya saat ini. Ruang kuliah seharusnya menjadi tempat terjadinya benturan ide yang memicu perubahan paradigma dalam diri setiap mahasiswa yang hadir di sana. Jika proses ini digantikan oleh algoritma, maka pengalaman belajar hanya akan menjadi sekadar transaksi informasi yang kering dan tidak bermakna. Kita butuh mahasiswa yang tidak hanya pintar secara teknis, tetapi juga matang secara emosional dan juga sangat bijaksana.
Risiko hilangnya pengalaman transformasi ini juga berdampak pada rendahnya rasa percaya diri mahasiswa saat harus menghadapi tantangan dunia kerja. Mereka yang terbiasa menggunakan jalan pintas akan merasa gagap ketika dihadapkan pada situasi yang menuntut solusi orisinal tanpa bantuan mesin. Ketangguhan mental adalah aset yang sangat berharga yang hanya bisa didapatkan melalui proses belajar yang jujur, disiplin, dan sangat berintegritas. Pendidikan tinggi memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa setiap lulusannya memiliki kematangan berpikir yang dapat dipertanggungjawabkan di hadapan masyarakat luas. Oleh karena itu, tantangan akademik harus tetap diberikan dalam dosis yang tepat untuk merangsang pertumbuhan mental para mahasiswa tersebut. Jangan sampai kemudahan yang kita berikan hari ini justru menjadi racun bagi masa depan mereka di lingkungan yang kompetitif. Kematangan intelektual adalah hasil dari akumulasi pengalaman belajar yang panjang dan sering kali penuh dengan rintangan yang sangat berat.
Pendidik harus mampu menciptakan suasana belajar yang menuntut keterlibatan penuh dari seluruh aspek kemanusiaan mahasiswa, baik rasio maupun rasa mereka. Teknologi kecerdasan buatan harus diposisikan sebagai cermin untuk melihat kembali keterbatasan kita sebagai manusia dan memacu diri untuk lebih baik. Mahasiswa perlu diajarkan untuk merayakan proses belajar yang sulit sebagai bagian dari perjalanan menuju kearifan yang lebih tinggi lagi. Keberhasilan seorang mahasiswa tidak boleh hanya diukur dari nilai-nilai yang tertera pada lembar kartu hasil studi yang bersifat formal. Transformasi mental yang terjadi selama masa perkuliahan adalah nilai tambah yang akan dibawa sepanjang hayat oleh setiap lulusan perguruan tinggi. Kita harus berkomitmen untuk tetap menjaga esensi pendidikan sebagai proses pengembangan manusia seutuhnya, bukan sekadar mencetak operator mesin yang handal. Ruang kuliah harus tetap menjadi tempat suci bagi pertumbuhan akal budi manusia yang bebas dari segala jenis bentuk otomatisasi.
Sebagai penutup, paradoks kemudahan yang ditawarkan oleh kecerdasan buatan harus kita sikapi dengan kebijaksanaan kolektif yang sangat matang dan terencana. Kita tidak menolak kemajuan teknologi, namun kita harus memastikan bahwa teknologi tersebut tidak merampas hak mahasiswa untuk bertumbuh secara mental. Pengalaman transformasi mental di ruang kuliah adalah investasi jangka panjang yang akan menentukan kualitas pemimpin bangsa pada masa depan nanti. Mahasiswa harus terus didorong untuk mengejar kedalaman ilmu dengan penuh semangat, kejujuran, serta dedikasi yang tinggi terhadap kebenaran ilmiah. Mari kita bangun sebuah ekosistem pendidikan yang mampu menyelaraskan kecanggihan teknologi dengan keluhuran budi pekerti manusia yang tidak lekang zaman. Dengan demikian, mahasiswa akan tetap benar-benar belajar dan bertransformasi menjadi pribadi yang unggul, berkarakter, dan sangat tangguh menghadapi perubahan. Masa depan pendidikan kita adalah tanggung jawab kita bersama untuk menjaganya agar tetap manusiawi, orisinal, dan sangat bermartabat tinggi.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.