Kesenjangan Antara Kecerdasan Digital dan Kedangkalan Empati Siber
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kecerdasan digital yang dimiliki oleh siswa saat ini sering kali terlihat sangat menonjol jika dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya secara teknis. Namun terdapat ironi yang mendalam ketika kecerdasan tersebut ternyata dibarengi dengan fenomena kedangkalan empati siber yang kian meluas di kalangan remaja. Kemudahan dalam berinteraksi jarak jauh justru tampak mengikis kepekaan perasaan mereka terhadap penderitaan atau kesedihan orang lain di layar. Banyak siswa yang dengan mudah menjadikan musibah atau kekurangan orang lain sebagai bahan lelucon dalam bentuk meme atau komentar sarkastis. Hal ini menunjukkan bahwa konektivitas digital yang tinggi tidak selalu menjamin terjalinnya koneksi emosional yang mendalam di antara sesama manusia. Fenomena ini merupakan tantangan serius bagi dunia pendidikan yang selama ini mengasumsikan bahwa literasi digital otomatis akan meningkatkan kualitas hidup. Kita perlu menyadari bahwa tanpa asuhan empati kecerdasan digital hanyalah alat dingin yang dapat digunakan untuk melukai hati sesama dengan mudah.
Kedangkalan empati siber sering kali berakar pada persepsi bahwa dunia maya hanyalah permainan simulasi yang tidak memiliki konsekuensi di dunia nyata. Siswa merasa bahwa apa yang mereka tuliskan tidak akan menyakiti siapapun karena mereka tidak melihat ekspresi wajah korban secara langsung. Ketidakhadiran fisik ini menciptakan jarak psikologis yang membuat individu kehilangan kontrol diri terhadap dorongan agresivitas yang ada dalam dirinya. Padahal luka yang disebabkan oleh perundungan siber sering kali jauh lebih dalam dan bertahan lama bagi korban daripada luka fisik. Pendidikan karakter harus mampu menjembatani kesenjangan ini dengan mengajarkan siswa untuk selalu memanusiakan orang lain dalam setiap interaksi digital. Kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain adalah inti dari empati yang harus terus dipupuk sejak dini secara konsisten. Siswa harus diingatkan bahwa setiap karakter teks yang mereka kirimkan memiliki beban emosional yang nyata bagi orang yang membacanya di sana.
Selain faktor psikologis individual budaya kompetisi yang tidak sehat di media sosial juga turut memperparah kedangkalan empati di kalangan pelajar. Siswa sering kali merasa harus menjatuhkan orang lain demi menunjukkan keunggulan diri atau untuk sekadar mendapatkan pengakuan dari kelompoknya. Lingkungan digital yang didominasi oleh pamer kemewahan dan kesuksesan palsu membuat rasa iri hati tumbuh subur dan mengikis rasa syukur. Akibatnya keberhasilan orang lain sering kali direspons dengan kebencian daripada dengan apresiasi yang jujur dan tulus dari dalam hati. Pendidikan harus mampu memberikan pemahaman bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang unik dan tidak perlu dibanding-bandingkan secara negatif. Literasi emosional perlu diintegrasikan ke dalam program literasi digital agar siswa mampu mengelola perasaan iri dan kebencian tersebut dengan bijaksana. Membangun budaya saling mendukung dan menghargai harus menjadi prioritas utama dalam menciptakan iklim sekolah yang sehat di era digital ini.
Peran media massa dan kreator konten juga tidak kalah penting dalam membentuk atau justru merusak empati siber di kalangan siswa kita. Banyak konten yang sengaja dirancang untuk memicu kemarahan atau kebencian kolektif demi mendapatkan jumlah tayangan yang sangat banyak dalam waktu singkat. Siswa sebagai konsumen aktif sering kali terpapar pada narasi-narrasi yang tidak memanusiakan lawan bicara dalam sebuah perdebatan di ruang publik. Tanpa pendampingan yang intensif mereka akan menganggap perilaku tersebut sebagai standar komunikasi yang normal dalam kehidupan bermasyarakat modern. Oleh karena itu edukasi mengenai konsumsi media yang sehat harus menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum pendidikan di tingkat menengah. Siswa perlu diajarkan untuk bersikap kritis terhadap konten yang menghasut dan belajar untuk tidak memberikan ruang bagi kebencian untuk tumbuh. Dengan meningkatkan standar kualitas tontonan kita secara tidak langsung juga sedang meningkatkan standar kualitas empati di dalam sanubari para siswa.
Untuk mengatasi ironi ini diperlukan gerakan kolektif yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan di atas segala kecanggihan algoritma yang ada di internet. Sekolah harus menjadi tempat di mana empati dipraktikkan secara nyata melalui berbagai aksi sosial yang memanfaatkan teknologi untuk kebaikan. Siswa dapat diajak untuk membuat kampanye daring yang mendukung korban bencana atau mempromosikan isu-isu kemanusiaan yang relevan dengan usia mereka. Pengalaman langsung dalam membantu sesama akan membantu mereka menyadari bahwa teknologi memiliki kekuatan besar untuk menyembuhkan dan menyatukan manusia. Kecerdasan digital yang sejati adalah kecerdasan yang mampu menggunakan teknologi untuk memperluas jangkauan kebaikan dan rasa empati kepada dunia. Jika kita berhasil menutup celah kesenjangan ini maka masa depan digital Indonesia akan dipenuhi oleh generasi yang bijaksana dan penuh kasih. Mari kita didik anak-anak kita untuk tidak hanya menjadi ahli gawai tetapi juga menjadi manusia yang memiliki hati emas di dunia maya.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.