Kesenjangan Digital dan Terbatasnya Ruang Eksplorasi Pengetahuan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Kesenjangan digital tidak hanya membatasi akses
terhadap teknologi, tetapi juga mempersempit ruang eksplorasi pengetahuan. Di
era informasi, belajar tidak lagi bersifat linear. Pengetahuan berkembang
melalui pencarian, perbandingan, dan refleksi dari berbagai sumber. Ketika
akses terbatas, ruang eksplorasi ikut menyempit. Individu hanya bergerak dalam
lingkaran informasi yang sama. Mutu belajar pun berkembang secara terbatas dan
berulang. Kondisi ini sering tidak disadari karena tampak sebagai situasi
normal. Padahal, keterbatasan tersebut menyimpan dampak jangka panjang.
Ruang eksplorasi
pengetahuan sangat bergantung pada ketersediaan akses digital. Akses
memungkinkan individu melampaui satu sumber informasi. Tanpa akses, proses
belajar berhenti pada apa yang tersedia di sekitar. Kesempatan untuk memperkaya
perspektif menjadi terbatas. Akibatnya, pemahaman cenderung dangkal dan tidak
komprehensif.
Keterbatasan
eksplorasi juga memengaruhi kreativitas berpikir. Kreativitas tumbuh dari
pertemuan berbagai gagasan. Ketika gagasan yang ditemui bersifat homogen,
kreativitas sulit berkembang. Kesenjangan digital secara tidak langsung
menghambat proses ini. Mutu belajar pun terpengaruh oleh minimnya stimulasi
intelektual.
Selain itu, ruang
eksplorasi berperan penting dalam pembentukan kemandirian belajar. Individu
yang terbiasa mengeksplorasi akan lebih percaya diri dalam mencari pengetahuan.
Sebaliknya, keterbatasan akses menciptakan ketergantungan pada sumber tertentu.
Ketergantungan ini melemahkan inisiatif belajar. Mutu belajar menjadi kurang
adaptif.
Kesenjangan digital
juga membentuk batas imajiner tentang apa yang mungkin dipelajari. Individu
dengan akses terbatas cenderung menurunkan ekspektasi belajar. Hal ini terjadi
bukan karena kurangnya kemampuan, tetapi karena keterbatasan pengalaman. Ekspektasi
yang rendah membatasi upaya dan pencapaian. Proses belajar pun terhenti sebelum
berkembang maksimal.
Mengatasi
keterbatasan ruang eksplorasi memerlukan pendekatan yang lebih dari sekadar
penyediaan perangkat. Diperlukan upaya membuka kesadaran akan luasnya
kemungkinan belajar. Akses harus dibarengi dengan dorongan eksplorasi. Tanpa
dorongan ini, akses tidak dimanfaatkan secara optimal.
Pada akhirnya,
kesenjangan digital mempersempit ruang eksplorasi pengetahuan dan menurunkan
mutu belajar. Selama ruang eksplorasi belum terbuka secara adil, proses belajar
akan terus dibatasi oleh kondisi akses. Pemerataan akses menjadi langkah awal
untuk memperluas cakrawala belajar.
###
Penulis: Resinta Aini
Zakiyah