Ketangguhan Dosen dalam Menghadapi Arus Disrupsi Kecerdasan Buatan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dinamika pendidikan tinggi saat ini sedang mengalami guncangan hebat akibat penetrasi teknologi kecerdasan buatan yang merambah ke berbagai aspek pembelajaran mahasiswa. Dosen sebagai pilar utama dalam proses transfer ilmu pengetahuan kini dituntut untuk memiliki ketangguhan luar biasa dalam menghadapi perubahan lanskap edukasi. Kecepatan evolusi teknologi ini sering kali melampaui kesiapan regulasi dan infrastruktur yang dimiliki oleh banyak institusi pendidikan tinggi di tanah air. Fenomena ini menciptakan tekanan psikologis dan profesional bagi pendidik yang harus memastikan bahwa standar kualitas pengajaran tidak menurun akibat penggunaan AI. Upaya mempertahankan otoritas akademik memerlukan adaptasi yang cepat terhadap alat-alat digital baru tanpa kehilangan esensi dari interaksi pedagogis yang humanis. Ketangguhan dosen diuji melalui kemampuannya dalam mengintegrasikan teknologi sebagai alat bantu dan bukan sebagai pengganti peran intelektual mereka. Penjaminan pendidikan berkualitas tetap menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian teknologi yang terus berkembang dengan sangat masif dan cepat.
Kesiapan kompetensi dosen dalam memahami logika kerja algoritma generatif menjadi faktor krusial dalam mendesain kurikulum yang relevan dengan kebutuhan zaman. Banyak pendidik yang kini harus belajar kembali mengenai cara kerja model bahasa besar demi menjaga kualitas penilaian terhadap tugas-tugas yang diserahkan mahasiswa. Tantangan ini bukan hanya sekadar teknis tetapi juga berkaitan dengan pergeseran metode pengajaran yang semula berpusat pada materi menjadi berpusat pada proses kritis. Dosen ditantang untuk menciptakan lingkungan kelas yang mampu merangsang mahasiswa untuk berpikir lebih dalam daripada apa yang bisa disajikan oleh mesin. Penggunaan AI oleh mahasiswa sering kali memberikan jawaban yang tampak benar namun kurang memiliki kedalaman konteks dan kepekaan terhadap isu lokal yang spesifik. Oleh sebab itu, dosen harus mampu memberikan umpan balik yang lebih analitis untuk memancing orisinalitas ide dari setiap individu peserta didik. Keberhasilan seorang dosen dalam mengelola disrupsi ini akan menentukan kredibilitas institusi pendidikan dalam menghasilkan lulusan yang kompetitif. Penguasaan literasi AI bagi dosen bukan lagi sebuah pilihan melainkan kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi secara sistematis.
Secara fundamental, peran dosen telah bergeser dari sekadar sumber informasi menjadi fasilitator dan mentor dalam pencarian kebenaran ilmiah yang hakiki. Ketangguhan dosen tercermin pada kemampuannya untuk tetap mempertahankan standar etika penulisan karya ilmiah di tengah kemudahan manipulasi teks digital. Pendidikan berkualitas memerlukan kejujuran akademik yang tidak dapat dinegosiasikan meskipun teknologi menawarkan berbagai kemudahan yang sangat menggiurkan bagi para mahasiswa. Penjaminan kualitas ini harus didukung oleh kebijakan universitas yang memberikan ruang bagi dosen untuk terus melakukan inovasi dalam metode penilaian hasil belajar. Dosen perlu secara aktif terlibat dalam diskusi mengenai dampak sosial dan moral dari penggunaan kecerdasan buatan di dalam ruang lingkup akademik. Upaya ini bertujuan agar mahasiswa memahami bahwa teknologi hanyalah sarana untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih mulia dan bermartabat. Kekuatan intelektual dosen menjadi benteng terakhir yang menjaga kemurnian proses belajar dari degradasi nilai yang diakibatkan oleh ketergantungan berlebih pada mesin. Dengan demikian, tantangan AI justru dapat menjadi katalisator bagi dosen untuk meningkatkan kapasitas profesionalisme mereka ke tingkat yang lebih tinggi.
Integrasi teknologi dalam pendidikan juga menuntut dosen untuk memiliki fleksibilitas dalam menghadapi beragam karakteristik mahasiswa yang semakin mahir menggunakan gawai cerdas. Dosen dituntut untuk tidak bersikap antipati terhadap teknologi melainkan harus mampu merangkulnya sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran yang modern dan inklusif. Pendekatan pengajaran yang inovatif harus dikembangkan guna memastikan bahwa interaksi antara dosen dan mahasiswa tetap bermakna secara emosional dan intelektual. Pendidikan yang berkualitas memerlukan kehadiran sosok pendidik yang mampu memberikan inspirasi dan keteladanan dalam bersikap terhadap perkembangan zaman yang serba cepat. Ketahanan mental dosen dalam menghadapi kritik dan perubahan sistem pendidikan menjadi parameter penting dalam menjamin keberlangsungan kualitas lulusan universitas. Diperlukan dukungan nyata dari pemerintah dan institusi dalam bentuk pelatihan berkelanjutan yang berfokus pada penguasaan teknologi instruksional yang berbasis pada kecerdasan buatan. Tanpa adanya dukungan sistemik, ketangguhan dosen secara individu mungkin tidak akan cukup untuk membendung arus disrupsi yang sangat besar ini. Kerja sama antarinstansi menjadi kunci untuk menciptakan standar pendidikan tinggi yang adaptif namun tetap memegang teguh nilai-nilai luhur akademik.
Masa depan pendidikan berkualitas sangat bergantung pada sinergi antara kebijakan yang visioner dan ketangguhan para dosen dalam mengimplementasikannya di dalam kelas. Penggunaan AI generatif di kalangan mahasiswa harus dikelola dengan bijak agar tidak mematikan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas yang sangat esensial bagi pembangunan bangsa. Dosen memiliki tanggung jawab sejarah untuk memastikan bahwa setiap mahasiswanya tidak hanya mahir secara teknis tetapi juga matang secara intelektual dan spiritual. Penilaian terhadap kualitas pendidikan tidak boleh hanya terpaku pada angka-angka administratif melainkan pada dampak nyata yang dihasilkan oleh pemikiran para sarjana. Di era disrupsi ini, dosen adalah navigasi utama yang membimbing mahasiswa melintasi samudra informasi yang penuh dengan bias dan ketidakpastian algoritma. Ketangguhan tersebut akan menjadi modal utama bagi bangsa Indonesia dalam menyongsong persaingan global yang semakin kompetitif dan berbasis pada ekonomi pengetahuan. Pendidikan berkualitas adalah hak setiap mahasiswa yang harus diperjuangkan dengan segenap tenaga oleh para pendidik yang berdedikasi tinggi dan berwawasan luas. Melalui semangat adaptasi dan inovasi, dosen akan tetap menjadi jantung dari kemajuan peradaban yang didukung oleh teknologi namun tetap berlandaskan pada kemanusiaan.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.